Direktur baru Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Jared Isaacman, secara terbuka mendorong persaingan antara SpaceX dan Blue Origin dalam pengembangan wahana pendarat Bulan. Ia menegaskan, NASA akan memilih perusahaan yang paling siap dan mampu mengantarkan astronot Amerika ke permukaan Bulan sesuai target strategis nasional.
“Siapa pun yang dapat menghadirkan sistem pendarat yang benar-benar siap operasi dan mendukung tujuan Amerika Serikat di Bulan, itulah yang akan kami pilih,” ujar Isaacman kepada Bloomberg usai disahkan Senat AS sebagai Administrator NASA.
SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin yang didirikan Jeff Bezos sama-sama telah menandatangani kontrak dengan NASA untuk mengembangkan wahana pendarat Bulan. SpaceX saat ini berada di posisi lebih maju melalui program Starship Human Landing System (HLS) yang direncanakan digunakan pada misi Artemis III tahun 2027.
Sepanjang tahun ini, SpaceX telah melakukan lima kali uji coba peluncuran Starship ke orbit, dengan dua uji terakhir dinilai berhasil. Namun, pada Oktober lalu, pejabat NASA saat itu menyebut SpaceX mengalami keterlambatan jadwal, sehingga membuka peluang bagi Blue Origin untuk mengambil alih misi pendaratan bersejarah tersebut.
Pernyataan tersebut sempat memicu ketegangan publik, termasuk respons keras dari Elon Musk yang menegaskan keyakinannya bahwa SpaceX tetap mampu menjalankan misi Bulan secara mandiri.
Di sisi lain, Blue Origin juga menunjukkan kemajuan signifikan sepanjang 2025. Roket New Glenn berhasil melakukan peluncuran dan pendaratan ulang tahap pertama pada November, sementara misi New Shepard mencetak sejarah dengan membawa insinyur antariksa Michaela “Michi” Benthaus ke batas luar angkasa.
Meski demikian, wahana pendarat Bulan Blue Moon masih berada pada tahap pengembangan dan perakitan, serta belum menjalani uji terbang operasional, sehingga dinilai masih tertinggal dibanding Starship milik SpaceX.
Jared Isaacman diketahui memiliki kedekatan profesional dengan SpaceX. Ia pernah terbang dua kali dalam misi komersial SpaceX dan terlibat dalam spacewalk komersial pertama di dunia. Hubungan ini sempat memicu kontroversi politik dan hampir menggagalkan pengangkatannya sebagai Kepala NASA, menyusul dinamika antara Presiden Donald Trump dan Elon Musk.
Namun, Isaacman menegaskan bahwa keputusan NASA akan tetap berbasis kesiapan teknologi dan kepentingan nasional, bukan relasi personal.
Pekan lalu, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif baru yang menegaskan target mengembalikan astronot AS ke Bulan pada 2028, disusul rencana pembangunan reaktor nuklir dan pos permanen di Bulan pada 2030. Fokus tersebut menempatkan program Bulan sebagai prioritas utama, sementara rencana misi ke Mars ditunda sementara.
Dengan dorongan kompetisi terbuka antara SpaceX dan Blue Origin, NASA berharap percepatan inovasi dapat memastikan dominasi Amerika Serikat dalam eksplorasi Bulan pada dekade mendatang.






