Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan setelah beberapa hari berada di bawah tekanan. Logam mulia tersebut bahkan sempat mendekati level US$4.100 per ons sebelum akhirnya menutup perdagangan di atas US$4.000 per ons.
Pada penutupan perdagangan 26 Juni, harga emas spot tercatat naik sekitar US$62 menjadi US$4.008 per ons. Selama sesi berlangsung, harga sempat menyentuh level US$4.094 per ons sebelum kembali bergerak stabil menjelang penutupan pasar.
Penguatan harga emas didorong oleh melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama dunia, turun menjadi 101,3 dari posisi sebelumnya di kisaran 101,7.
Di sisi lain, alat pemantau suku bunga FedWatch milik CME Group menunjukkan investor kini memperkirakan peluang perubahan kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve pada September mencapai sekitar 59 persen. Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Meski demikian, data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan tekanan inflasi yang cukup tinggi. Departemen Perdagangan AS melaporkan Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Mei naik 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak April 2023 dan tetap menjadi indikator inflasi utama yang diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan kenaikan harga emas kali ini merupakan bentuk pemulihan setelah logam mulia tersebut mengalami tekanan jual selama beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Sepanjang pekan, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam tujuh bulan sekaligus mencatat penurunan selama empat pekan berturut-turut.
Menurutnya, suku bunga yang masih berada pada level tinggi serta kebijakan moneter yang ketat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbunga.
Sementara itu, analis TD Securities menilai pergerakan harga emas masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dan dolar AS. Penurunan harga minyak mentah sekitar 4 persen ke kisaran US$69 hingga US$72 per barel turut memberikan ruang bagi harga emas untuk menguat.
Namun perusahaan tersebut mengingatkan bahwa jika harga energi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang, logam mulia berpotensi kembali menghadapi tekanan.
Di pasar fisik, permintaan emas di India mulai menunjukkan perbaikan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan setelah melemahnya daya beli masyarakat pada periode sebelumnya. Sebaliknya, permintaan di China yang merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia masih relatif stabil dan belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Tidak hanya emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan harga. Perak menguat sekitar dua persen dan diperdagangkan di kisaran US$59 per ons. Sementara itu, platinum dan paladium masing-masing ditutup pada level sekitar US$1.615 dan US$1.188 per ons.
Pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, kondisi inflasi global, serta pergerakan nilai tukar dolar. Investor diperkirakan akan terus mencermati data ekonomi berikutnya sebagai acuan dalam menentukan arah investasi di pasar logam mulia.






