Startup robotika asal Amerika Serikat, Apptronik, membangun fasilitas pelatihan khusus bagi robot humanoid bernama Robot Park di Austin, Texas. Area seluas hampir 8.400 meter persegi tersebut dirancang sebagai tempat robot Apollo mempelajari berbagai tugas sebelum diterapkan di dunia industri maupun kehidupan sehari-hari.
Di pusat pelatihan ini, robot humanoid Apollo menjalani beragam simulasi pekerjaan, mulai dari memindahkan barang di jalur konveyor, menyortir benda ke dalam wadah tertentu, hingga menjalankan aktivitas fisik yang bertujuan meningkatkan kemampuan motoriknya. Selama proses tersebut, para teknisi terus melakukan pemantauan, memberikan arahan, dan mengevaluasi setiap gerakan robot.
Robot Park beroperasi setiap hari tanpa henti. Seluruh data yang dikumpulkan dari sesi pelatihan digunakan untuk menyempurnakan model kecerdasan buatan (AI) yang menjadi “otak” Apollo. Dengan semakin banyak pengalaman yang diperoleh, robot diharapkan mampu bekerja lebih efektif di lingkungan pabrik maupun rumah tangga.
“Tempat ini pada dasarnya merupakan taman bermain bagi robot untuk belajar,” ujar Jeff Cardenas, Co-Founder sekaligus CEO Apptronik, seperti dikutip dari Business Insider.
Robot Belajar dari Data Dunia Nyata
Menurut Cardenas, salah satu tantangan terbesar dalam mengembangkan robot otonom adalah minimnya data nyata untuk proses pembelajaran. Berbeda dengan chatbot AI yang dapat dilatih menggunakan miliaran teks dan gambar dari internet, robot membutuhkan pengalaman langsung agar mampu memahami berbagai situasi di dunia fisik.
Karena itulah Apptronik membangun Robot Park sebagai lingkungan khusus untuk menghasilkan data operasional yang lebih realistis. Data tersebut menjadi fondasi dalam meningkatkan kemampuan robot menjalankan berbagai pekerjaan secara mandiri.
Ke depan, Apptronik berencana membangun lebih banyak fasilitas serupa di berbagai negara.
“Saya ingin melihat pusat pelatihan robot hadir di seluruh dunia, bahkan terbuka untuk masyarakat agar mereka bisa menyaksikan secara langsung bagaimana masa depan sedang dibangun,” kata Cardenas.
Berawal dari Laboratorium Universitas
Apptronik didirikan pada 2016 sebagai perusahaan rintisan yang lahir dari Human Centered Robotics Lab (HCRL) di University of Texas. Awalnya perusahaan mengembangkan sistem robotika berdasarkan teknologi yang digunakan dalam DARPA Robotics Challenge, kompetisi yang didukung militer Amerika Serikat untuk menciptakan robot yang mampu membantu penanganan bencana.
Pada tahap awal, Apptronik lebih banyak memproduksi komponen robot untuk perusahaan lain. Namun, perusahaan memiliki visi jangka panjang untuk menghadirkan robot humanoid serbaguna yang dapat digunakan di berbagai sektor industri.
Robot humanoid Apollo generasi pertama diperkenalkan pada 2023. Saat ini Apptronik tengah mengembangkan Apollo 2 yang dibekali peningkatan pada baterai, motor penggerak, serta sensor untuk mendukung pengumpulan data dan pengujian bersama pelanggan.
Robot tersebut memiliki tinggi sekitar 1,8 meter, mampu beroperasi hingga empat jam, dan dapat mengangkat beban seberat 25 kilogram menggunakan kedua tangannya. Sementara itu, Apollo 3 yang ditujukan untuk penggunaan komersial masih dalam tahap pengembangan.
Hingga saat ini Apptronik telah memperoleh pendanaan sekitar US$1 miliar dengan valuasi perusahaan melampaui US$5,5 miliar.
Salah satu investornya adalah Mercedes-Benz, yang mulai memanfaatkan robot Apollo untuk membantu pekerjaan sederhana di pabrik, seperti mengangkut komponen dan peralatan menuju jalur perakitan.
Selain itu, DeepMind, divisi riset kecerdasan buatan milik Google, juga menggunakan Apollo sebagai bagian dari pengembangan Gemini Robotics, model AI yang dirancang khusus untuk robot.
Persaingan di bidang robot humanoid juga semakin ketat di China. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pusat pelatihan robot bermunculan dengan dukungan pemerintah.
Salah satunya adalah fasilitas Kylin di Shanghai yang diresmikan pada Januari lalu. Pusat pelatihan seluas lebih dari 5.000 meter persegi itu mampu melatih lebih dari 100 robot humanoid secara bersamaan melalui berbagai skenario pekerjaan, termasuk pengelasan dan otomotif. Pada 2027, fasilitas tersebut menargetkan dapat mengoperasikan hingga 1.000 robot sekaligus.
Sementara itu, pada Mei lalu China juga membuka pusat demonstrasi aplikasi robot humanoid di Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Fasilitas tersebut diawali dengan 130 robot yang menjalankan lebih dari 30 skenario pekerjaan, mulai dari layanan katering, ritel otomatis, pertunjukan, inspeksi jaringan listrik, panen buah, hingga pekerjaan bawah tanah.
Dengan semakin banyaknya pusat pelatihan yang dibangun di berbagai negara, pengembangan robot humanoid diperkirakan akan berlangsung semakin cepat. Kehadiran fasilitas seperti Robot Park menjadi bagian penting dalam mempersiapkan robot agar mampu bekerja secara aman, efisien, dan adaptif di berbagai sektor industri pada masa depan.






