Sejumlah ekonom dan tokoh publik Jerman menyerukan agar pemerintah dan Bank Sentral Jerman mempertimbangkan pemulangan seluruh cadangan emas nasional yang saat ini disimpan di Amerika Serikat. Seruan ini mencuat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perubahan dinamika hubungan Berlin–Washington.
Salah satu suara yang paling vokal datang dari Emanuel Monch, ekonom senior dan mantan kepala riset Bank Sentral Jerman. Dalam pernyataannya pada 23 Januari 2026, Monch menilai penyimpanan emas di Amerika Serikat kini mengandung risiko strategis yang semakin besar.
“Dalam situasi geopolitik saat ini, menyimpan emas di AS tampak terlalu berisiko. Demi mengurangi ketergantungan dan memperkuat otonomi strategis, Jerman sebaiknya membawa kembali cadangan emasnya,” ujar Monch.
Jerman diketahui sebagai negara dengan cadangan emas terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Total cadangan emas Jerman bernilai hampir 450 miliar euro. Sekitar separuh disimpan di Frankfurt, 12 persen berada di Bank of England di London, sementara sisanya—sekitar 37 persen atau setara 1.236 ton—disimpan di brankas Federal Reserve AS dengan nilai sekitar 164 miliar euro.
Meski Bank Sentral Jerman menegaskan bahwa audit penyimpanan emas dilakukan secara rutin, kekhawatiran tetap muncul. Juru bicara pemerintah Jerman, Stefan Kornelius, menyatakan bahwa kabinet Kanselir Friedrich Merz saat ini belum mempertimbangkan rencana penarikan emas dari AS.
Namun, dukungan terhadap pemulangan emas terus bertambah. Michael Jager, Ketua Asosiasi Pembayar Pajak Jerman dan Eropa, mendesak langkah cepat dengan alasan meningkatnya risiko politik global. Ia menyinggung kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump yang dinilai sulit diprediksi.
“Trump selalu bertindak untuk kepentingan Amerika. Dalam kondisi seperti ini, emas Jerman tidak bisa dianggap sepenuhnya aman di gudang The Fed,” kata Jager, seraya mengingatkan potensi risiko akses Jerman terhadap cadangan emasnya di masa depan.
Isu pemulangan emas sebelumnya kerap diangkat oleh partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD). Namun kini, topik tersebut mulai mendapatkan perhatian lebih luas di kalangan politik arus utama. Katharina Beck dari Partai Hijau menyebut emas sebagai “jangkar stabilitas dan kepercayaan” yang tidak seharusnya menjadi alat tawar dalam konflik geopolitik.
Di sisi lain, tidak semua ekonom sepakat. Clemens Fuest, Presiden Institute for Economic Research Jerman, memperingatkan bahwa langkah penarikan emas justru bisa memicu ketegangan baru dan memperburuk situasi global.
Sikap lebih moderat juga disampaikan oleh Frauke Heiligenstadt dari Partai Sosial Demokrat. Ia mengakui adanya kekhawatiran publik, namun menilai distribusi cadangan emas Jerman saat ini masih seimbang dan rasional.
“Dengan separuh emas berada di Frankfurt, Jerman tetap memiliki fleksibilitas tinggi. Menyimpan sebagian emas di New York masih relevan mengingat keterkaitan erat kebijakan keuangan Jerman, Eropa, dan Amerika Serikat,” ujarnya.
Perdebatan ini menunjukkan bagaimana cadangan emas tidak lagi sekadar isu moneter, melainkan juga menjadi simbol kedaulatan ekonomi di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks.
Sumber Berita: Guardian






