RAGAMNETWORK.COM – Eskalasi militer di Laut Karibia mencapai titik didih. Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempersiapkan landasan hukum untuk melancarkan serangan ke sasaran strategis di Venezuela. Langkah agresif ini akan diawali dengan rencana Washington memasukkan Cartel de los Soles ke dalam daftar organisasi teroris resmi.
Menurut bocoran dari empat pejabat AS yang dikutip Reuters, negara tersebut siap meluncurkan fase baru kampanye militer. Penetapan status teroris terhadap Cartel de los Soles dijadwalkan pada 24 November, dengan alasan utama keterlibatan kelompok tersebut dalam transportasi narkoba ke wilayah Amerika Serikat.
Pemerintahan Presiden Donald Trump secara terbuka menuduh Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebagai pimpinan kartel tersebut—sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Maduro. Trump menegaskan pekan lalu bahwa masuknya kartel ini ke dalam daftar hitam secara teknis memberikan otorisasi bagi Amerika Serikat untuk menyerang target di tanah Venezuela.
Meskipun retorika perang menguat, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Trump menyatakan kesediaannya melanjutkan pembicaraan untuk mencari solusi diplomatik. Hal ini dikonfirmasi oleh dua pejabat AS yang menyebutkan bahwa komunikasi dengan pihak Venezuela telah terjadi, meskipun belum jelas apakah diskusi ini mampu meredam ukuran kampanye militer AS yang akan datang.
Dampak ketegangan ini langsung memukul sektor penerbangan sipil. Federal Aviation Administration (FAA) pada 21 November mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi bahaya penerbangan di wilayah udara Venezuela. Peringatan ini mendesak maskapai untuk berhati-hati, yang berujung pada pembatalan penerbangan oleh tiga maskapai internasional.
Di lapangan, kekuatan militer AS yang dikerahkan di dekat Venezuela tampak sangat masif dan jauh melampaui kebutuhan operasi anti-narkoba biasa. Armada ini dipimpin oleh kelompok serangan kapal induk USS Gerald R. Ford, didukung oleh setidaknya delapan kapal permukaan, kapal tempur khusus, dan kapal selam serang.
Kekuatan udara yang disiagakan mencakup delapan jet tempur siluman F-35B, pesawat serang darat AC-130, pesawat pengintai laut P-8A, hingga drone MQ-9. Total kekuatan personel yang terlibat dilaporkan melebihi 15.000 tentara.
Presiden Nicolas Maduro bereaksi keras terhadap pengepungan ini. Ia menggambarkan manuver penggalangan pasukan AS di Karibia sebagai “ancaman terbesar” atas Venezuela dalam 100 tahun terakhir. Sebagai respons defensif, militer Venezuela telah menggelar latihan perang skala besar pada 13 November lalu untuk menghadapi potensi invasi.






