Gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa Barat mulai memberikan dampak besar terhadap aktivitas ekonomi. Selain mengganggu kehidupan masyarakat, suhu ekstrem dinilai menurunkan produktivitas tenaga kerja, meningkatkan konsumsi energi, serta memperbesar risiko kenaikan inflasi dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai negara di kawasan Eropa menghadapi cuaca yang jauh lebih panas dari biasanya. Prancis mencatat rekor suhu rata-rata nasional pada 23 Juni, sementara beberapa wilayah bahkan melampaui 44 derajat Celsius. Di Spanyol, badan meteorologi AEMET melaporkan suhu di Andujar, wilayah selatan negara itu, menembus lebih dari 45 derajat Celsius.
Dampak cuaca ekstrem tersebut juga dirasakan sektor pendidikan dan layanan publik. Ratusan sekolah di Inggris menghentikan sementara kegiatan belajar atau mengurangi jam pelajaran. Selain itu, sebanyak 23 negara mengeluarkan peringatan kesehatan akibat suhu tinggi, dengan kondisi paling serius terjadi di Jerman, Prancis, Spanyol, Swiss, dan Luksemburg.
Perusahaan asuransi kredit komersial Allianz Trade menilai gelombang panas kini bukan lagi sekadar gangguan musiman, melainkan telah berkembang menjadi ancaman struktural bagi perekonomian Eropa. Menurut perusahaan tersebut, kawasan Eropa termasuk wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan saat ini tengah menghadapi gelombang panas besar untuk kedua kalinya tahun ini.
Sejumlah analis menilai Eropa memiliki berbagai faktor yang membuat dampak cuaca panas semakin besar. Populasi yang semakin menua, kepadatan kawasan perkotaan, serta banyaknya bangunan lama yang tidak dirancang menghadapi suhu ekstrem menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, kepemilikan pendingin ruangan di Eropa masih relatif rendah. Hanya sekitar 19 persen rumah tangga yang memiliki AC, jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai sekitar 90 persen.
Para ilmuwan juga mengingatkan bahwa benua Eropa mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan banyak wilayah lain di dunia. Aktivitas manusia yang memicu perubahan iklim diyakini membuat gelombang panas menjadi lebih sering dan lebih ekstrem.
Ketua organisasi pengusaha terbesar Prancis, Medef, Patrick Martin, menyebut kondisi tersebut telah memperlambat aktivitas dunia usaha. Menurutnya, cuaca panas membuat produktivitas pekerja menurun sehingga proses bisnis tidak berjalan secara optimal.
Allianz Trade memperkirakan penurunan produktivitas akan semakin besar ketika suhu udara melampaui 30 derajat Celsius. Berdasarkan perhitungan AFP, lebih dari 100 juta penduduk Eropa mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius pada 25 Juni, sedangkan hampir dua pertiga populasi benua itu tinggal di wilayah dengan suhu melebihi 30 derajat Celsius.
Bank Sentral Eropa (ECB) sebelumnya menjelaskan bahwa cuaca hangat pada musim semi, gugur, atau dingin masih dapat memberikan manfaat bagi beberapa sektor seperti konstruksi, pertanian, dan kegiatan luar ruangan. Namun, kondisi berbeda terjadi saat gelombang panas melanda musim panas. Aktivitas ekonomi justru menurun karena masyarakat memiliki keterbatasan untuk bekerja maupun beraktivitas di luar ruangan.
Menurut ECB, dampak gelombang panas tidak hanya bersifat sementara. Penelitian lembaga tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang terdampak dapat mengalami penurunan aktivitas ekonomi dalam jangka panjang, bahkan produksi berpotensi menyusut hingga sekitar 1,5 persen setelah dua tahun.
Mantan Gubernur Bank Sentral Prancis, Emmanuel Moulin, juga menilai suhu ekstrem akan memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
Selain menekan produktivitas, gelombang panas diperkirakan meningkatkan konsumsi listrik karena penggunaan pendingin ruangan yang semakin tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi sekaligus memperbesar tekanan inflasi.
Sektor pangan juga menghadapi risiko yang sama. Suhu tinggi dan kekeringan dapat menurunkan hasil panen serta mengganggu rantai pasok. ECB mencatat kekeringan pada 2022 menyebabkan harga pangan di Eropa meningkat sekitar 0,7 poin persentase. Produksi zaitun menjadi salah satu sektor yang paling terdampak sehingga harga minyak zaitun melonjak tajam.
Pakar iklim dan pembangunan berkelanjutan Allianz, Hamem Krichene, mengingatkan bahwa tanpa percepatan adaptasi terhadap perubahan iklim dan upaya menuju netral karbon, gelombang panas berpotensi menjadi hambatan permanen bagi pertumbuhan ekonomi kawasan.
Dalam proyeksinya, Allianz Trade memperkirakan apabila pola tahun-tahun terpanas pada periode 2014–2024 kembali terulang hingga 2030, produk domestik bruto (PDB) Eropa dapat menyusut sekitar 5 hingga 7 persen. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai sekitar 240 miliar dolar AS di Jerman, 147 miliar dolar AS di Italia, 131 miliar dolar AS di Prancis, dan sekitar 120 miliar dolar AS di Spanyol.
Dampak tersebut juga diprediksi mengurangi penerimaan pajak negara sekaligus meningkatkan belanja pemerintah untuk infrastruktur dan layanan kesehatan. Kondisi itu berisiko memperburuk defisit anggaran serta utang publik di sejumlah negara Eropa yang saat ini masih memiliki ruang fiskal terbatas.






