Ketegangan antara China dan Jepang kembali meningkat setelah kapal patroli kedua negara terlibat kontak langsung di sekitar Kepulauan Senkaku/Diaoyu. Insiden tersebut terjadi ketika masing-masing pihak saling menuduh pelanggaran wilayah di kawasan yang sejak lama menjadi titik panas di Laut China Timur.
China Klaim Kapal Nelayan Jepang Masuk Secara Ilegal
Pada 2 Desember, otoritas penjaga pantai China menyatakan bahwa sebuah kapal nelayan Jepang “secara ilegal memasuki perairan teritorial China” di sekitar kelompok Pulau Tianyu—nama yang digunakan Beijing untuk merujuk wilayah yang oleh Jepang disebut Senkaku.
Liu Dejun, perwakilan Penjaga Pantai China, mengatakan pihaknya melakukan tindakan pengusiran yang dianggap “perlu dan sesuai prosedur penegakan hukum maritim.”
Ia menegaskan bahwa China akan terus melakukan patroli rutin sekaligus menjaga klaim wilayahnya. Beijing kembali menekankan bahwa kedaulatan atas pulau tersebut “tidak dapat diganggu gugat” dan menuduh Jepang mengabaikan batas maritim yang diklaim China.
Jepang: Kapal Patroli China Langgar Hukum Internasional
Sebaliknya, Penjaga Pantai Jepang (Japan Coast Guard/JCG) menyampaikan narasi berbeda. Mereka menyebut dua kapal penjaga pantai China justru telah memasuki “perairan teritorial Jepang” sebelum keluar beberapa jam kemudian.
Menurut JCG, kapal mereka sempat menghalangi pergerakan kapal China yang mendekati kapal nelayan Jepang, serta meminta Beijing untuk segera meninggalkan area tersebut.
Tokyo menuduh China “melanggar hukum internasional” dan menyebut kehadiran beberapa kapal tambahan China sebagai bentuk provokasi yang semakin meningkatkan risiko insiden maritim.
Senkaku/Diaoyu: Pulau Tak Berpenghuni yang Memicu Konflik Berkepanjangan
Kepulauan Senkaku (versi Jepang) atau Diaoyu (versi China) merupakan gugusan pulau tak berpenghuni yang berada sekitar 1.900 km dari Tokyo dan 600 km dari Shanghai. Meski tidak dinilai besar secara geografis, kawasan ini memiliki nilai strategis karena jalur pelayaran internasional serta potensi sumber daya minyak dan gas.
Jepang menguasai pulau ini secara administratif, namun China terus mengklaimnya sebagai bagian dari teritorial historis. Setelah Jepang menasionalisasi Senkaku pada 2012, aktivitas kapal patroli dan kapal nelayan China di wilayah tersebut meningkat drastis.
Konfrontasi ringan antara kapal penjaga pantai kedua negara menjadi fenomena yang terus berulang selama lebih dari satu dekade.
Ketegangan Meningkat karena Isu Taiwan
Insiden terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada 7 November. Ia menyebut Jepang dapat mengambil langkah militer bila Taiwan diserang.
Taiwan berjarak sekitar 100 km dari pulau terluar Jepang, sehingga potensi konflik dinilai akan berdampak langsung terhadap keamanan nasional Jepang.
Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Beijing. Pemerintah China memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Jepang dan sejumlah agenda budaya di kedua negara turut terdampak, termasuk pembatalan pertunjukan seorang penyanyi Jepang di Shanghai karena gangguan listrik mendadak.
China: Taiwan Wilayah yang Tak Terpisahkan
China terus menyatakan bahwa Taiwan merupakan bagian sah dari wilayahnya dan menegaskan tidak akan menutup opsi penggunaan kekuatan untuk reunifikasi. Meski begitu, Beijing tetap menyatakan preferensi utama mereka adalah penyatuan secara damai melalui dialog.






