RAGAMNETWORK.COM – Ekspor senjata dunia kembali mencatatkan rekor baru. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) melaporkan bahwa penjualan dari 100 perusahaan pertahanan terbesar di dunia pada tahun 2024 mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, mencerminkan meningkatnya permintaan senjata di berbagai kawasan.
Menurut peneliti SIPRI, Lorenzo Scarazzato, perusahaan-perusahaan pertahanan menikmati lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Penjualan senjata global tahun lalu mencapai tingkat tertinggi yang pernah kami catat, karena perusahaan pertahanan mengambil keuntungan dari periode permintaan yang tinggi,” ujarnya pada 30 November.
Laporan SIPRI mencatat total penjualan sebesar 679 miliar dolar AS, naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak 2015 hingga 2024, pendapatan kolektif kelompok perusahaan ini tumbuh 26 persen, menandakan tren jangka panjang peningkatan belanja militer.
Amerika Serikat kembali menempati posisi dominan. Sebanyak 39 perusahaan AS masuk daftar 100 perusahaan pertahanan terbesar, dengan total penjualan mencapai 334 miliar dolar AS, atau hampir setengah dari seluruh penjualan global. Angka tersebut meningkat sekitar 5,8 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Di Eropa, 26 perusahaan pertahanan berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 13 persen, dengan total penjualan mencapai 151 miliar dolar AS. Salah satu lonjakan terbesar datang dari Czechoslovakia Group (CSG) yang melesat hingga 193 persen dengan penjualan 3,6 miliar dolar AS, sebagian besar didorong oleh inisiatif pasokan amunisi untuk Ukraina yang digagas Republik Ceko.
Sementara itu, dua perusahaan Rusia juga masuk daftar dengan total pendapatan 31,2 miliar dolar AS, tumbuh 23 persen. SIPRI menyoroti bahwa meskipun permintaan meningkat, industri pertahanan Rusia masih menghadapi keterbatasan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk memenuhi kapasitas produksi.
Di kawasan Asia dan Oseania, total pendapatan 23 perusahaan pertahanan menurun tipis sebesar 1,2 persen, menjadi 130 miliar dolar AS. Penurunan ini dipicu melemahnya sektor pertahanan Tiongkok akibat sejumlah kontrak besar yang ditunda atau dibatalkan pada 2024. Sebaliknya, Jepang dan Korea Selatan justru mencatat kenaikan penjualan berkat meningkatnya permintaan dari negara-negara Eropa.
Dari Timur Tengah, sembilan perusahaan pertahanan memperoleh total penjualan 31 miliar dolar AS. Tiga perusahaan Israel menonjol dengan pertumbuhan pendapatan 16 persen, menjadi 16,2 miliar dolar AS.
Menurut analis SIPRI, Jade Guiberteau Ricard, lonjakan penjualan selama satu tahun terakhir terutama disokong oleh Eropa. Tingginya permintaan berasal dari kebutuhan Ukraina, negara-negara pendukung bantuan militer, serta negara-negara Eropa yang perlu mengisi kembali persediaan setelah meningkatkan bantuan ke wilayah konflik. Banyak negara kini mempercepat modernisasi militernya, sehingga menciptakan pasar baru bagi industri pertahanan.
Namun demikian, SIPRI memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan pertahanan Eropa masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi permintaan tinggi. Hambatan pasokan material dan kapasitas produksi menjadi faktor yang dapat menghambat percepatan pemenuhan pesanan.
Sumber Berita: AFP, AP, Reuters






