Upaya penanganan perubahan iklim kini tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga semakin menyoroti keadilan gender. UN Women Indonesia bersama Green Welfare Indonesia resmi meluncurkan panduan aksi iklim responsif gender yang ditujukan untuk mendukung keterlibatan orang muda, khususnya perempuan, dalam proyek lingkungan berkelanjutan di Indonesia.
Panduan bertajuk “Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender di Indonesia” disusun sebagai referensi praktis bagi komunitas muda dalam merancang, menjalankan, hingga mengevaluasi proyek iklim yang inklusif. Toolkit ini juga mengakomodasi kebutuhan khusus perempuan dan anak perempuan yang kerap terdampak lebih besar oleh bencana dan perubahan iklim.
Pengembangan panduan dilakukan secara kolaboratif oleh kelompok muda serta organisasi yang bergerak di bidang lingkungan dan kesetaraan gender. Prosesnya melibatkan konsultasi terbuka agar materi yang dihasilkan relevan dengan kondisi lapangan serta kebutuhan komunitas lokal.
Toolkit tersebut mencakup panduan siklus proyek mulai dari analisis konteks, perencanaan, implementasi, hingga evaluasi dampak. Selain itu, tersedia alat bantu analisis gender dan risiko iklim, pemetaan pemangku kepentingan, serta contoh praktik baik aksi iklim dari berbagai daerah di Indonesia.
Data World Risk Index 2025 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia. Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan perempuan memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban bencana, sehingga pendekatan sensitif gender dinilai penting dalam kebijakan iklim.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amurwani Dwi Lestariningsih, menilai peluncuran toolkit ini selaras dengan upaya nasional memperkuat komitmen iklim sekaligus memastikan pembangunan rendah karbon berjalan adil dan inklusif. Pemerintah disebut akan terus mendorong integrasi perspektif gender dalam kebijakan pembangunan.
Peluncuran toolkit turut diikuti diskusi panel yang melibatkan pemerintah, organisasi non-profit, serta perwakilan anak muda. Diskusi ini membahas peran generasi muda dalam mendukung target aksi iklim nasional sekaligus memastikan keterlibatan perempuan mendapat perhatian serius.
Sebagai tindak lanjut, lokakarya melibatkan puluhan anak muda dari berbagai daerah digelar untuk menerapkan panduan tersebut secara langsung. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas proyek iklim komunitas sekaligus membangun jejaring kolaborasi lintas daerah.
Melalui program EmPower yang dijalankan bersama United Nations Environment Programme, inisiatif ini diharapkan memperkuat partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan lingkungan serta menciptakan proyek iklim yang berdampak nyata dan berkelanjutan.






