Pemerintah Iran melalui Badan Amal dan Urusan Veteran secara resmi merilis jumlah korban tewas dalam gelombang protes besar-besaran yang melanda negeri tersebut sejak akhir tahun 2025. Hingga 21 Januari 2026, tercatat sebanyak 3.117 orang tewas dalam kerusuhan yang menyebar dari Teheran ke berbagai kota di seluruh penjuru Iran.
Data yang bersumber dari Organisasi Forensik Iran ini merupakan laporan resmi pertama dari pihak otoritas sejak aksi demonstrasi pecah pada Desember 2025.
Rincian dan Klasifikasi Korban
Pemerintah Iran memberikan klasifikasi khusus terhadap ribuan korban jiwa tersebut, dengan rincian sebagai berikut:
-
Personel Keamanan & Warga Sipil: Sebanyak 2.427 orang dikategorikan sebagai korban dari pihak keamanan dan warga sipil yang terjebak dalam konflik.
-
Penyebab Kematian: Otoritas Iran menuding kelompok teroris, termasuk Negara Islam (IS), berada di balik banyak kematian brutal tersebut melalui operasi pembunuhan sengaja maupun penggunaan amunisi tanpa pandang bulu.
-
Kelompok Demonstran: Sebagian besar korban lainnya diyakini sebagai pengunjuk rasa yang, menurut klaim pemerintah, ditembak mati di tengah kerumunan oleh “penyelenggara teroris” guna memperkeruh suasana.
Pernyataan Otoritas dan Bantahan Internasional
Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahide, menyatakan pada Senin lalu bahwa “pemberontakan telah berakhir” dan berkomitmen untuk menindak tegas aktor intelektual di balik aksi tersebut. Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga secara konsisten membantah laporan dari berbagai organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) internasional.
Sebagai perbandingan, sejumlah kelompok HAM di luar Iran memperkirakan angka kematian jauh lebih tinggi, yakni melampaui 15.000 jiwa, di mana sebagian besar merupakan pengunjuk rasa yang tewas dalam bentrokan.
Aksi protes yang awalnya dipicu oleh ketidakpuasan para pedagang terhadap situasi ekonomi dan depresiasi mata uang ini telah bergeser menjadi isu geopolitik yang panas:
-
Tudingan Iran: Teheran menuduh agen intelijen Israel dan Amerika Serikat menghasut kerusuhan di dalam negeri.
-
Respons AS: Departemen Luar Negeri AS menolak tuduhan tersebut dan balik menuduh Teheran mencoba mengalihkan perhatian dari masalah internal.
-
Ancaman Militer: Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan kemungkinan intervensi militer, termasuk serangan udara ke wilayah Iran. Namun, sekutu regional seperti Israel, Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Turki dilaporkan telah memperingatkan Washington mengenai konsekuensi jangka panjang dari tindakan militer tersebut.
Situasi di lapangan kini terpantau mulai mereda secara fisik, namun ketegangan diplomatik antara Iran dan blok Barat masih berada pada titik tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.






