Eropa diperkirakan akan menghadapi musim panas yang lebih panjang hingga 42 hari tambahan pada tahun 2100 akibat perubahan iklim global yang dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil. Prediksi ini muncul dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada akhir November 2025.
Peran Gradien Panas Terbatas (LTG)
Studi ini menyoroti fenomena gradien panas terbatas (Limited Thermal Gradients/LTG), yaitu perbedaan suhu antara Kutub Utara dan khatulistiwa, yang kini menurun. Biasanya, LTG yang tinggi mendorong angin melintasi Samudra Atlantik, mengatur pola suhu musiman di Eropa. Dengan menurunnya LTG, gelombang panas dan musim panas akan bertahan lebih lama di seluruh benua.
“Fenomena ini bukan hal baru bagi sistem iklim Bumi, tetapi yang membedakan adalah kecepatan, penyebab, dan skala perubahannya,” kata Dr. Laura Boyall dari University of London Royal Holloway School, salah satu penulis penelitian.
Pelajaran dari Sejarah Iklim
Untuk memahami sejarah iklim Eropa, tim peneliti menganalisis lapisan sedimen di dasar danau. Lapisan-lapisan ini tersimpan secara subseasonal dan memungkinkan peneliti membangun garis waktu musim panas dan musim dingin hingga 10.000 tahun yang lalu.
Hasilnya menunjukkan, sekitar 6.000 tahun lalu, musim panas di Eropa dapat berlangsung hingga delapan bulan akibat fluktuasi alami LTG. Kini, pemanasan Arktik yang empat kali lebih cepat daripada rata-rata global, dipicu oleh emisi gas rumah kaca, mengurangi LTG. Setiap kenaikan 1°C menyebabkan musim panas di Eropa bertambah sekitar enam hari, sehingga pada 2100, tambahan 42 hari musim panas diperkirakan akan terjadi.
Organisasi penelitian geologi Finlandia, GTK, memperingatkan perubahan ini dapat membawa konsekuensi signifikan bagi lingkungan dan ekonomi Eropa.
“Musim tanam yang lebih panjang mungkin bermanfaat untuk beberapa tanaman dan wilayah utara, tetapi panas ekstrem dan kekeringan bisa meniadakan manfaat tersebut,” jelas penelitian tersebut. Ekosistem yang terbiasa dengan kondisi lebih dingin bisa menghadapi kebakaran hutan, kekeringan, dan masalah kesehatan terkait suhu tinggi.
Dr. Celia Martin-Puertas, penulis lain dari Royal Holloway School, menambahkan bahwa studi ini menegaskan hubungan antara pola cuaca Eropa dan perubahan iklim global. “Dengan memahami masa lalu, kita bisa memprediksi perubahan lebih akurat dan mempersiapkan strategi adaptasi menghadapi iklim yang berubah cepat,” katanya.






