RAGAMNETWORK.COM – Sebuah momen di Oval Office pada 6 November memicu perdebatan baru mengenai stamina Presiden Amerika Serikat. Di tengah diskusi para pemimpin bisnis mengenai pil penurun berat badan, Presiden Donald Trump (79) tertangkap kamera menutup matanya untuk waktu yang lama sambil sesekali menggosok wajahnya.
Ekspresi lelah ini bertolak belakang dengan pujian yang ia terima seminggu sebelumnya dari pendukung seperti Eric Daugherty, Direktur Florida Voice, yang takjub melihat jadwal padat Trump sepulang dari perjalanan Asia. “Pria ini belum beristirahat selama berhari-hari!” komentar Daugherty.
Namun, analisis data menunjukkan realitas yang berbeda dari citra dinamis yang ingin ditampilkan.
Berdasarkan catatan jadwal publik dari situs non-partisan Roll Call, volume aktivitas Presiden Trump tahun ini menurun drastis sebesar 39 persen dibandingkan awal masa jabatannya pada 2017.
Jumlah acara publik anjlok dari 1.688 menjadi hanya 1.029. Selain itu, waktu dimulainya agenda harian juga bergeser mundur secara signifikan. Jika pada 2017 rata-rata kegiatan dimulai pukul 10.31 pagi, tahun ini rata-rata baru dimulai pukul 12.08 siang.
Sumber internal menyebutkan bahwa Presiden Trump kini terbiasa masuk ke Oval Office setelah pukul 11.00 pagi. Kebiasaan ini meneruskan pola “waktu eksekutif” di kediaman pribadi untuk menghindari jadwal pagi yang terlalu padat. Jeffrey Kuhlman, mantan dokter Gedung Putih (2000-2013), mencatat perbedaan tajam etos kerja ini dibandingkan pendahulunya. George W. Bush diketahui sudah bekerja pukul 06.45 pagi, sementara Barack Obama kerap bekerja lembur hingga larut malam. Kuhlman menilai, meskipun para ajudan berusaha membangun citra aktif, Trump “sebagian besar hanya duduk” saat berada di kantor.
Skeptisisme publik terhadap kondisi fisik Trump juga dipicu oleh ketidakjelasan informasi medis. Meski Dr. Sean Barbabella merilis surat yang menyatakan kesehatan presiden “sangat baik” dan mampu bekerja tanpa batasan, ia tidak menyinggung prosedur MRI yang diakui Trump telah dilakukannya pada awal Oktober.
Psikolog John Gartner kepada The Daily Beast Podcast menambahkan bahwa kesalahan verbal Trump baru-baru ini, seperti menyebut konflik
“Iran-Pakistan” dan “Azerbaijan-Albania”, mengindikasikan tanda-tanda “pengurangan konseptual” atau penurunan kognitif.
Jajak pendapat YouGov pada bulan September mempertegas keraguan ini, di mana 49 persen orang Amerika menilai Trump menunjukkan tanda penurunan kesadaran dan kesehatan. Menanggapi sorotan tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, melakukan pembelaan dengan menyerang balik kubu lawan.
“Tidak seperti bekas Gedung Putih yang menutupi penurunan kognitif Biden. Presiden Trump dan timnya selalu terbuka dan transparan tentang kesehatannya yang luar biasa,” tegas Leavitt. Trump sendiri terus menepis isu usia dengan membandingkan dirinya dengan Joe Biden (83), bersikeras bahwa dirinya memiliki energi yang jauh lebih besar.






