RAGAMNETWORK.COM – Situasi genting yang membayangi awak stasiun luar angkasa Tiangong akhirnya teratasi dengan suksesnya misi peluncuran terbaru dari China. Roket Long March 2F (Truong Chinh 2F) berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasa Shenzhou 22 tanpa awak pada pukul 12.11 waktu setempat. Hanya berselang sekitar 10 menit setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit, pesawat tersebut memisahkan diri dari roket pendorong dan meluncur mulus memasuki lintasan orbit yang telah ditentukan. Badan Pesawat Ruang Angkasa China (CMSA) segera mengumumkan keberhasilan manuver krusial ini.
Ketegangan sempat menyelimuti misi ini karena awak Shenzhou 21 yang tengah bertugas di orbit berada dalam posisi rentan tanpa kendaraan kembali. Sekitar empat jam pasca peluncuran, CMSA mengonfirmasi bahwa Shenzhou 22 telah menyelesaikan proses penyambungan (docking) dengan stasiun Tiangong. Kehadiran kapal ini berfungsi ganda: sebagai “sekoci” jika keadaan darurat terjadi sewaktu-waktu, serta dijadwalkan menjadi kendaraan pulang bagi awak Shenzhou 21 pada tahun 2026 mendatang setelah mereka merampungkan misi enam bulan di stasiun tersebut.
Langkah taktis ini diambil menyusul insiden kerusakan yang menimpa Shenzhou 20. Analisis gambar, evaluasi desain, hingga simulasi tes di bunker angin mengonfirmasi adanya retakan kecil pada jendela kapsul Shenzhou 20, yang diduga kuat akibat hantaman puing-puing sampah antariksa. Kerusakan tersebut menyebabkan kapal dinilai tidak memenuhi standar keselamatan untuk membawa manusia kembali ke Bumi, sehingga otoritas memutuskan menahan kapal itu di stasiun Tiangong hanya untuk keperluan eksperimen ilmiah.
Selain membawa misi keselamatan, Shenzhou 22 juga mengangkut pasokan logistik vital bagi kelangsungan hidup di antariksa. Muatannya mencakup makanan khusus, obat-obatan, produk pertanian segar, serta suku cadang stasiun. Secara spesifik, kapal ini juga membawa peralatan khusus yang dirancang untuk menangani retakan jendela pada kapsul Shenzhou 20. Misi ini sekaligus membuktikan efektivitas mekanisme “satu peluncur, satu kapal cadangan” yang diterapkan China, di mana Shenzhou 22 dan roket pendorongnya sebenarnya sudah dalam status siaga darurat saat misi sebelumnya berlangsung.






