RAGAMNETWORK.COM – Keytruda (Pembrolizumab), obat imunoterapi dari Merck, telah memantapkan posisinya sebagai obat kanker terlaris di dunia, dengan pendapatan kumulatif melebihi $146 miliar dalam satu dekade.
Namun, dominasinya di pasar kini menghadapi tantangan besar dari segi harga, aksesibilitas, dan ancaman berakhirnya hak paten.
Menurut laporan NYT, Keytruda menyumbang hampir setengah dari total pendapatan Merck. Namun, potensi kerugian puluhan miliar dolar membayangi pada tahun 2028, ketika patennya berakhir dan pesaing mulai meluncurkan versi yang lebih murah (copycat / biosimilar).
Sebagai strategi pertahanan pendapatan, Merck telah merespons dengan mengembangkan versi baru bernama Keytruda Qlex untuk injeksi subkutan, yang baru saja disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) AS.
Keytruda, Obat Kanker Terlaris Dunia
Fondasi kesuksesan Keytruda berasal dari mekanisme revolusioner, yang mengantarkan Hadiah Nobel Kedokteran 2018. Alih-alih menyerang tumor secara langsung seperti kemoterapi, Keytruda termasuk dalam kelompok imunoterapi. Obat ini bertindak sebagai sakelar “pembuka kunci” untuk sistem kekebalan tubuh sendiri.
Para ilmuwan James P. Allison dan Tasuku Honjo menemukan bahwa sel kanker “bersembunyi” dengan menciptakan protein PD-L1. Protein ini, ketika melekat pada reseptor PD-1 pada sel-T, mengirimkan sinyal palsu: “Saya anggota keluarga, jangan menyerang.” Keytruda, sebuah antibodi monoklonal, bertugas mencegah kombinasi ini. Dengan “menghilangkan rem” pada sistem kekebalan, obat ini membebaskan sel-T, memungkinkan mereka mengidentifikasi dan menghancurkan sel ganas secara efektif.
Terobosan ini membuka jalan bagi Keytruda disetujui oleh FDA untuk lebih dari 40 indikasi perawatan, mencakup kanker paru-paru, melanoma, hingga kanker yang sulit diobati seperti kanker payudara trimester negatif.
Efektivitas obat ini dalam memperpanjang kelangsungan hidup penuh dan menunda perkembangan penyakit dengan cepat menjadikannya “pilihan pertama” dalam banyak rejimen pengobatan kanker. Salah satu pasien paling terkenal yang merasakan manfaat terapi ini adalah mantan Presiden AS Jimmy Carter, yang pulih sepenuhnya dari melanoma metastatik stadium lanjut.
Beban Keuangan dan Masa Depan Biosimilar
Meskipun efektivitasnya teruji, keberhasilan Keytruda dihadapkan pada dua tantangan: biaya dan efek samping. Aktivasi sistem kekebalan tubuh yang kuat kadang-kadang dapat menyebabkan “efek samping yang dimediasi kekebalan,” di mana sel-T menyerang organ sehat, memicu peradangan parah. Menurut penelitian, sekitar 15-30% pasien mengalami efek samping sedang hingga berat.
Beban keuangan menjadi penghalang besar bagi akses. Di pasar AS, satu dosis Keytruda berharga lebih dari $12.000 per tiga minggu perawatan. Di Vietnam, biaya per botol berkisar dari 55 hingga 65 juta VND, membuat total rejimen pengobatan bisa mencapai ratusan juta atau miliaran dong, di mana seluruh biaya dibebankan kepada pasien karena belum dicakup asuransi kesehatan.
Dalam konteks ini, upaya penurunan beban biaya mulai muncul. Kementerian Kesehatan di Vietnam sedang menyebarkan program dukungan Keytruda periode 2024–2026 di hampir 50 rumah sakit, menerapkan mekanisme pembayaran bersama (misalnya, beli dua botol, gratis dua botol).
Alternatif yang lebih struktural adalah biosimilar. Pembroria, versi Pembrolizumab buatan Rusia, telah dilisensikan di beberapa pasar. Meskipun harganya lebih rendah (sekitar 18 juta VND per botol) namun masih belum ditanggung asuransi kesehatan.
Para ahli memandang persaingan dari obat biosimilar sebagai kunci untuk “demokratisasi” akses terhadap imunoterapi canggih ini, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Sumber Berita: Nobel Prize, Merck, PubMed






