Ketua The Fed Kevin Warsh Tegaskan Inflasi Masih Jadi Ancaman, Komitmen Jaga Stabilitas Harga AS

Avatar photo

- Penulis Berita

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Fed Kevin Warsh saat konferensi pers pada 17 Juni 2016 di Washington. Foto: AFP

Presiden Fed Kevin Warsh saat konferensi pers pada 17 Juni 2016 di Washington. Foto: AFP

Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, kembali menegaskan bahwa inflasi masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian Amerika Serikat. Meski sejumlah indikator menunjukkan tekanan harga mulai mereda, ia menilai kondisi saat ini belum cukup untuk menyatakan inflasi telah sepenuhnya terkendali.

Pernyataan tersebut disampaikan Warsh saat menghadiri Forum Bank Sentral ECB di Portugal pada 1 Juli. Dalam kesempatan itu, ia tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya, tetapi menegaskan bahwa menjaga stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama bank sentral AS.

“Beberapa hari terakhir kita banyak membahas kecerdasan buatan dan peningkatan produktivitas. Namun, kita juga harus melihat kenyataan bahwa harga masih berada pada level yang terlalu tinggi,” ujar Warsh.

Warsh menyambut baik tren perlambatan inflasi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, menurutnya, data terbaru belum cukup kuat untuk memastikan tekanan harga benar-benar telah kembali normal.

Ia menegaskan bahwa Federal Reserve tidak akan membiarkan ekspektasi inflasi bergerak menjauh dari target jangka panjang sebesar 2 persen.

Baca Juga :  IHSG Tumbang 7,34% ke Level 8.321, Efek "Interim Freeze" MSCI Guncang Bursa Domestik

“Jika rumah tangga, pelaku usaha, maupun investor menganggap The Fed menerima inflasi di atas 2 persen sebagai kondisi normal, mereka keliru. Kami akan memastikan stabilitas harga kembali terjaga,” kata Warsh.

Data Inflasi Masih Tinggi

Data terbaru menunjukkan Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat pada Mei naik 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

PCE merupakan indikator inflasi yang paling diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter. Selama lima tahun terakhir, tingkat inflasi AS juga belum berhasil kembali ke target 2 persen yang ditetapkan bank sentral.

Usai pernyataan Warsh, ekspektasi investor terhadap perubahan suku bunga sedikit mengalami penyesuaian. Meski demikian, mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan peluang perubahan kebijakan pada pertemuan September berada di kisaran 70 persen.

Ekonom Nationwide, Oren Klachkin, menilai pernyataan Warsh menunjukkan bahwa asumsi pasar mengenai kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat belum tentu akan terwujud.

Baca Juga :  Investasi Sumedang 2025 Tembus Rp5,6 Triliun, Serap Ribuan Tenaga Kerja di Kawasan Rebana

Saat ditanya mengenai keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang beberapa kali mendorong penurunan suku bunga, Warsh menegaskan bahwa Federal Reserve tetap menjalankan tugasnya secara independen.

“Kami adalah lembaga yang independen, dan prinsip itu tidak akan berubah,” tegasnya.

Trump sebelumnya menunjuk Warsh sebagai Ketua The Fed dan secara terbuka beberapa kali menyampaikan harapannya agar bank sentral segera memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain membahas inflasi, Warsh mengungkapkan bahwa Federal Reserve akan segera membentuk lima kelompok kerja yang bertugas mengevaluasi berbagai aspek operasional bank sentral.

Kelompok tersebut akan mengkaji kemungkinan pembaruan dalam proses pengambilan kebijakan moneter, termasuk pemanfaatan teknologi terbaru agar The Fed dapat memantau perkembangan ekonomi secara lebih akurat dan real time.

Warsh berharap dalam kurun sembilan hingga dua belas bulan mendatang, teknologi baru tersebut sudah mulai diterapkan untuk mendukung proses analisis ekonomi.

Menurutnya, penggunaan sistem yang lebih modern akan membantu Federal Reserve mengambil keputusan kebijakan moneter yang lebih cepat, tepat, dan sesuai dengan kondisi ekonomi yang terus berubah.

Baca Juga :  Harga Emas Dunia Bangkit, Sempat Sentuh Hampir US$4.100 per Ons di Tengah Pelemahan Dolar

Berita Terkait

Harga Emas Dunia Bangkit, Sempat Sentuh Hampir US$4.100 per Ons di Tengah Pelemahan Dolar
Gelombang Panas Ancam Ekonomi Eropa, Produktivitas Turun dan Risiko Inflasi Meningkat
Pemkab Kendal Apresiasi Primkopti Harum, Dorong Inovasi dan Tata Niaga Kedelai Lebih Tertata
BPS: Kemiskinan Kaltim Naik 5,19 Persen per September 2025, Garis Kemiskinan Tembus Rp897.759
IHSG Tumbang 7,34% ke Level 8.321, Efek “Interim Freeze” MSCI Guncang Bursa Domestik
Investasi Sumedang 2025 Tembus Rp5,6 Triliun, Serap Ribuan Tenaga Kerja di Kawasan Rebana
Investor Domestik Unjuk Gigi, IHSG Tembus Rekor Tertinggi Meski Asing Lepas Saham
Pembiayaan Koperasi Desa Dijamin Pemerintah: Menkeu Segera Selesaikan Revisi Aturan Kredit
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:13 WIB

Ketua The Fed Kevin Warsh Tegaskan Inflasi Masih Jadi Ancaman, Komitmen Jaga Stabilitas Harga AS

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:46 WIB

Harga Emas Dunia Bangkit, Sempat Sentuh Hampir US$4.100 per Ons di Tengah Pelemahan Dolar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:46 WIB

Gelombang Panas Ancam Ekonomi Eropa, Produktivitas Turun dan Risiko Inflasi Meningkat

Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:00 WIB

Pemkab Kendal Apresiasi Primkopti Harum, Dorong Inovasi dan Tata Niaga Kedelai Lebih Tertata

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:00 WIB

BPS: Kemiskinan Kaltim Naik 5,19 Persen per September 2025, Garis Kemiskinan Tembus Rp897.759

Berita Terbaru