Gelombang Panas Eropa Diprediksi Bertambah Hingga 42 Hari pada 2100

Avatar photo

- Penulis Berita

Kamis, 4 Desember 2025 - 09:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Orang Spanyol mengangkut penggemar di Barcelona. Foto: Reuters

Orang Spanyol mengangkut penggemar di Barcelona. Foto: Reuters

Eropa diperkirakan akan menghadapi musim panas yang lebih panjang hingga 42 hari tambahan pada tahun 2100 akibat perubahan iklim global yang dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil. Prediksi ini muncul dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada akhir November 2025.

Peran Gradien Panas Terbatas (LTG)

Studi ini menyoroti fenomena gradien panas terbatas (Limited Thermal Gradients/LTG), yaitu perbedaan suhu antara Kutub Utara dan khatulistiwa, yang kini menurun. Biasanya, LTG yang tinggi mendorong angin melintasi Samudra Atlantik, mengatur pola suhu musiman di Eropa. Dengan menurunnya LTG, gelombang panas dan musim panas akan bertahan lebih lama di seluruh benua.

“Fenomena ini bukan hal baru bagi sistem iklim Bumi, tetapi yang membedakan adalah kecepatan, penyebab, dan skala perubahannya,” kata Dr. Laura Boyall dari University of London Royal Holloway School, salah satu penulis penelitian.

Pelajaran dari Sejarah Iklim

Untuk memahami sejarah iklim Eropa, tim peneliti menganalisis lapisan sedimen di dasar danau. Lapisan-lapisan ini tersimpan secara subseasonal dan memungkinkan peneliti membangun garis waktu musim panas dan musim dingin hingga 10.000 tahun yang lalu.

Baca Juga :  IRGC Sita Tanker di Teluk, Klaim Kargo Ilegal di Kapal Berbendera Kepulauan Marshall

Hasilnya menunjukkan, sekitar 6.000 tahun lalu, musim panas di Eropa dapat berlangsung hingga delapan bulan akibat fluktuasi alami LTG. Kini, pemanasan Arktik yang empat kali lebih cepat daripada rata-rata global, dipicu oleh emisi gas rumah kaca, mengurangi LTG. Setiap kenaikan 1°C menyebabkan musim panas di Eropa bertambah sekitar enam hari, sehingga pada 2100, tambahan 42 hari musim panas diperkirakan akan terjadi.

Organisasi penelitian geologi Finlandia, GTK, memperingatkan perubahan ini dapat membawa konsekuensi signifikan bagi lingkungan dan ekonomi Eropa.

“Musim tanam yang lebih panjang mungkin bermanfaat untuk beberapa tanaman dan wilayah utara, tetapi panas ekstrem dan kekeringan bisa meniadakan manfaat tersebut,” jelas penelitian tersebut. Ekosistem yang terbiasa dengan kondisi lebih dingin bisa menghadapi kebakaran hutan, kekeringan, dan masalah kesehatan terkait suhu tinggi.

Dr. Celia Martin-Puertas, penulis lain dari Royal Holloway School, menambahkan bahwa studi ini menegaskan hubungan antara pola cuaca Eropa dan perubahan iklim global. “Dengan memahami masa lalu, kita bisa memprediksi perubahan lebih akurat dan mempersiapkan strategi adaptasi menghadapi iklim yang berubah cepat,” katanya.

Baca Juga :  Pasar Rumah Prefabrikasi AS Meledak, Kesempatan Investasi dan Tantangan bagi Pembeli

Berita Terkait

Hakim Inggris Sebut Barron Trump Bantu Selamatkan Temannya dari Jarak Jauh
BAZNAS RI Kirim 33.917 Paket Pangan untuk Warga Palestina
Perjanjian Dagang AS-RI Dinilai Mengancam Kedaulatan Digital dan Ruang Kebijakan
BAZNAS Salurkan 300 Selimut untuk Warga Gaza Hadapi Dingin Ekstrem
NASA Targetkan Artemis 2 Meluncur 6 Maret, Misi Berawak Bulan
Trump Puji Perdana Menteri Jepang Jelang Pertemuan Penting Di Washington
WGC: Permintaan Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang 2025
Trump Ultimatum Kanada, Ancaman Tarif 100% Jika Perkuat Kerja Sama Dagang dengan China
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 09:45 WIB

Hakim Inggris Sebut Barron Trump Bantu Selamatkan Temannya dari Jarak Jauh

Jumat, 13 Maret 2026 - 10:26 WIB

BAZNAS RI Kirim 33.917 Paket Pangan untuk Warga Palestina

Senin, 2 Maret 2026 - 11:00 WIB

Perjanjian Dagang AS-RI Dinilai Mengancam Kedaulatan Digital dan Ruang Kebijakan

Sabtu, 28 Februari 2026 - 12:07 WIB

BAZNAS Salurkan 300 Selimut untuk Warga Gaza Hadapi Dingin Ekstrem

Minggu, 22 Februari 2026 - 13:24 WIB

NASA Targetkan Artemis 2 Meluncur 6 Maret, Misi Berawak Bulan

Berita Terbaru