RAGAMNETWORK.COM – Panggung pasar modal Indonesia kembali mencatatkan sejarah baru pada perdagangan Rabu, 26 November 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat menembus level psikologis dan menutup hari di angka 8.602,13. Capaian ini menjadi rekor tertinggi sepanjang masa, menandakan optimisme yang meluap di lantai bursa.
Namun, di balik pesta pora kenaikan indeks tersebut, terselip fenomena menarik dari perilaku investor global. Data perdagangan memperlihatkan anomali di mana investor asing justru ramai-ramai menarik dananya. Tercatat, aksi jual bersih (net sell) oleh asing mencapai nilai Rp 394,89 miliar. Kontras ini menegaskan bahwa otot investor domestik kini semakin kuat dalam menopang beban pasar, menjaga indeks tetap hijau meski ditinggal sebagian pemodal luar.
Tekanan jual dari pihak asing menyasar sejumlah saham unggulan berkapitalisasi besar. Deretan emiten yang paling banyak dilepas antara lain BBRI, BNBR, INET, NSSS, dan DOOH. Meski demikian, rotasi sektor tetap terjadi. Asing tidak sepenuhnya angkat kaki, melainkan mengalihkan bidikan mereka dengan memborong saham-saham spesifik seperti BUMI, BKSL, GOTO, DEWA, dan GTSI. Pergerakan ini mengindikasikan strategi penyesuaian portofolio yang dinamis di tengah tingginya valuasi pasar.
Secara teknikal, tren penguatan IHSG diprediksi masih memiliki bensin yang cukup. Seorang analis pasar saham menyoroti indikator momentum yang masih solid. “MACD menunjukkan pelebaran pada positive slope. Sehingga kami memperkirakan IHSG akan melanjutkan penguatan menuju level 8.550–8.570 …,” ujarnya memberikan pandangan optimis terhadap grafik pergerakan harga.
Pelaku pasar menilai aksi jual asing ini kemungkinan besar merupakan strategi ambil untung (profit taking) yang wajar setelah reli panjang dalam beberapa pekan terakhir. Aktivitas transaksi yang tetap tinggi menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia makin matang, di mana dominasi investor lokal mampu menyerap tekanan jual asing dan menjaga momentum rekor tetap terjaga.






