RAGAMNETWORK.COM – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara mengenai insiden jatuhan tiga batu berukuran besar di Gunung Batu, Lembang, Bandung Barat. Kejadian pada Sabtu (8/11) tersebut diungkapkan sebagai fenomena alami yang dipicu oleh kondisi geologi lokasi setempat yang labil.
Kepala Badan Geologi, M Wafid, menjelaskan bahwa jatuhan batu terjadi tanpa adanya gempa signifikan atau hujan lebat yang tercatat di sekitar lokasi. “Ini fenomena alami akibat kondisi geologi yang labil. Kemungkinan dipicu oleh getaran kecil atau faktor internal batuan,” kata M Wafid di Bandung, Minggu.
Berdasarkan pengamatan awal tim di lapangan, lokasi jatuhan batu berada pada lereng terjal dengan kemiringan lebih dari 60 derajat. Lereng tersebut tersusun oleh batuan vulkanik yang sudah mengalami retakan dan pelapukan parah.
Wafid menambahkan, kondisi geologi di sana menunjukkan adanya bidang rekahan yang memanjang sejajar lereng. Kondisi ini secara spesifik menandakan bahwa batuan berada pada keadaan mendekati batas kestabilan (limit equilibrium).
Badan Geologi menganalisis mekanisme fenomena ini termasuk dalam kategori gerakan massa batuan tipe jatuhan (rockfall). Pemicu utamanya adalah kelemahan internal batuan akibat retakan dan pelapukan alami. Faktor lain yang berkontribusi adalah getaran gempa mikro yang tidak tercatat dalam sistem utama, namun cukup memicu pelepasan blok batuan yang telah rapuh, serta perubahan suhu dan pelapukan berulang.
Warga Kampung Sukamulya, RT 01/10, Desa Langensari, yang dekat dengan tebing, dikejutkan oleh jatuhan batu sekitar pukul 12.10 WIB. Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, Asep Sehabudin, mengonfirmasi insiden tersebut. “Berdasarkan informasi, ada longsoran tiga batu dari Gunung Batu,” ujar Asep. Ia memastikan tidak ada korban jiwa, meskipun sebuah green house kaktus milik warga mengalami kerusakan pada dindingnya usai tertimpa batu.
M Wafid memperingatkan bahwa wilayah tebing Gunung Batu memiliki potensi terpapar jatuhan batu lanjutan, khususnya pada musim peralihan atau saat terjadi getaran ringan. Area jalan dan bangunan warga di bawah tebing memiliki risiko tinggi terhadap bahaya serupa.
Oleh karena itu, Badan Geologi merekomendasikan serangkaian langkah mitigasi darurat. Rekomendasi tersebut mencakup pemasangan jaring kawat pengaman (rock mesh) dan pagar penahan batu (rockfall barrier) di kaki tebing. Selain itu, diperlukan pembatasan aktivitas dan pembangunan di zona rawan jatuhan batu. Badan Geologi juga menyarankan monitoring mikro-seismik di area sesar Lembang serta edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda awal retakan baru dan pelapukan lereng.






