Pemerintah Kabupaten Batang mulai melakukan langkah intensif untuk mengurangi risiko banjir di kawasan pusat kota dengan melaksanakan normalisasi saluran sekunder di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Selasa (9/12/2025). Pengerjaan ini ditargetkan berlangsung selama tiga hari dan mencakup jalur dari Jl Ahmad Yani hingga Jl Yos Sudarso dan RE Martadinata, dengan total panjang sekitar 2,5 kilometer.
Kepala DPUPR Batang, Endro Suryono, menjelaskan bahwa pembersihan dilakukan secara bertahap, meliputi pengangkatan sampah dan pengurangan sedimen yang menumpuk. Target sedimentasi yang diangkat mencapai kedalaman 20 sentimeter. Evaluasi lapangan juga dilakukan setiap hari untuk memantau progres dan mengatasi hambatan.
Ia menambahkan bahwa salah satu fokus pengerjaan adalah titik-titik yang selama ini mengalami sedimentasi tebal, terutama di bawah jembatan. Kendala semakin besar karena seluruh jembatan di jalur tersebut dinyatakan tidak memiliki izin oleh Pusdataru, sehingga perlu penanganan administratif lanjutan. Pusdataru bahkan telah bersiap mengeluarkan Surat Peringatan Ketiga untuk bangunan jembatan tertentu, khususnya di wilayah Yos Sudarso.
Normalisasi ini melibatkan kolaborasi besar lintas instansi. Setidaknya 88 petugas diterjunkan setiap hari, terdiri dari personel DPUPR, DPRKPP, Perkim, BPBD, Pusdataru Provinsi, lima UPTD, dan Dinas Lingkungan Hidup. Meskipun alat berat telah disiapkan, kondisi saluran yang sempit membuat penggunaannya perlu pertimbangan khusus.
Endro juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi banjir yang dikoordinasikan bersama pemerintah provinsi. Salah satu langkah penting adalah pengaturan pintu air di Kramat yang dikelola Balai Pemali Comal, dengan rencana penutupan saat hujan deras untuk mencegah limpahan air dari saluran lain.
Sebelum pelaksanaan, koordinasi telah dilakukan melalui rapat bersama Pusdataru dan Balai Pemali Comal pada pagi hari, serta dengan seluruh OPD terkait pada siang harinya. Seluruh upaya ini diharapkan mampu memperbaiki kondisi saluran kota sekaligus meminimalkan potensi banjir saat puncak musim penghujan.
Endro menutup dengan imbauan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke saluran. Menurutnya, tumpukan sampah masih menjadi salah satu faktor utama yang memperparah terjadinya banjir di wilayah perkotaan.






