Momen Idul Fitri 1447 Hijriah membawa dampak besar bagi sektor pariwisata di Kota Sukabumi. Jumlah wisatawan yang datang ke berbagai destinasi dilaporkan melonjak signifikan selama periode libur Lebaran. Kenaikan arus kunjungan ini dinilai bukan hanya menghadirkan keramaian di tempat wisata, tetapi juga memberi dorongan nyata bagi perputaran ekonomi daerah.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Sukabumi, Rahmat Sukandar, menjelaskan bahwa lonjakan tersebut berkaitan erat dengan tradisi mudik. Banyak warga Sukabumi yang biasanya tinggal di luar kota kembali pulang saat Lebaran, lalu memanfaatkan waktu berkumpul bersama keluarga dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah asalnya. Pola ini membuat aktivitas wisata lokal ikut terdorong secara alami.
Menurut Rahmat, efek yang muncul tidak berhenti pada peningkatan jumlah pengunjung semata. Kehadiran wisatawan juga memicu transaksi ekonomi lain seperti belanja, konsumsi kuliner, hingga kebutuhan menginap. Dengan kata lain, pariwisata menjadi pintu masuk bagi pergerakan uang di banyak sektor. Ketika tempat wisata ramai, pelaku usaha kecil hingga penyedia jasa penginapan pun ikut merasakan manfaatnya.
Ia menilai suasana kondusif selama perayaan Idul Fitri turut berperan dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung. Karena itu, ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat menjaga stabilitas wilayah selama masa libur. Kondisi kota yang tertib dan aman dianggap menjadi salah satu faktor penting yang membuat masyarakat lebih percaya diri untuk datang dan beraktivitas di Sukabumi.
Meski data final masih menunggu laporan resmi dari masing-masing pengelola objek wisata, gambaran awal yang diterima Disporapar menunjukkan lonjakan yang sangat tinggi. Beberapa lokasi wisata bahkan melaporkan peningkatan kunjungan hingga 1.000 persen dibanding hari-hari biasa. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa momentum Lebaran benar-benar memberi pengaruh besar terhadap geliat wisata lokal.
Rahmat juga menyinggung tren pertumbuhan kunjungan secara tahunan. Jika dibandingkan antara 2025 dan 2026, total kunjungan ke Kota Sukabumi disebut meningkat sangat signifikan. Penambahannya diperkirakan mencapai sekitar 1 juta kunjungan, dari sebelumnya sekitar 700 ribu. Lonjakan tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik kota ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang dari waktu ke waktu.
Bagi pemerintah daerah, kondisi ini tentu menjadi peluang yang tidak boleh dilewatkan. Kenaikan wisatawan saat musim liburan bisa dijadikan dasar untuk memperkuat promosi destinasi, membenahi fasilitas, dan memperluas kolaborasi dengan pelaku usaha lokal. Sebab, jika dikelola dengan baik, kunjungan musiman seperti saat Lebaran dapat berubah menjadi modal jangka panjang bagi pengembangan sektor pariwisata.
Pada akhirnya, peningkatan wisatawan di Sukabumi selama Lebaran menunjukkan bahwa tradisi pulang kampung bisa membawa efek ekonomi yang luas. Wisata, perdagangan, dan jasa bergerak bersama dalam satu momentum. Bagi Kota Sukabumi, libur Lebaran tahun ini tampaknya bukan sekadar musim ramai biasa, melainkan kesempatan penting untuk memperlihatkan bahwa sektor wisata lokal punya peran besar dalam menghidupkan ekonomi daerah.






