Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengajak warga memaksimalkan sepuluh malam terakhir Ramadan sebagai fase “penentuan” ibadah. Pesan itu disampaikan saat Safari Ramadan Pemerintah Kabupaten Sumedang di Masjid Al Hikmah, Dusun Citaman, Desa Bojongloa, Kecamatan Buahdua, Selasa (10/3/2026).
Menurut Dony, sepuluh malam terakhir memiliki nilai keutamaan yang berbeda karena di dalamnya terdapat peluang bertemu Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, ia mendorong masyarakat menambah intensitas ibadah, bukan sekadar menjaga rutinitas.
Ia menekankan pentingnya memakmurkan masjid melalui kegiatan seperti iktikaf, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan memperbanyak amal saleh. Bagi Dony, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, melainkan latihan disiplin spiritual yang membentuk karakter setelah Lebaran.
Dalam pesannya, Bupati juga menyinggung soal syukur. Ia mengingatkan bahwa rasa syukur bukan slogan, tetapi sikap yang diwujudkan lewat cara menjalani hidup: menerima karunia, menjaga kesehatan, menghargai keluarga, dan memanfaatkan kesempatan beribadah yang masih diberikan.
“Kalau bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah nikmat kepada kita. Jalani hidup dengan penuh syukur, nikmati dan syukuri setiap karunia yang diberikan,” ucapnya.
Selain fokus pada ibadah personal, Dony mengajak warga memperkuat kebersamaan. Menurutnya, kegiatan di masjid selama Ramadan juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan menjaga ukhuwah di tengah masyarakat, terutama saat suasana sosial mudah panas oleh hal-hal sepele.
Ia menilai masjid seharusnya hidup sepanjang Ramadan dan tetap ramai setelahnya. Jika Ramadan menjadi momentum kebiasaan baik, maka hasilnya bukan hanya pahala, tetapi juga lingkungan sosial yang lebih rukun dan saling peduli.
Sementara itu, Camat Buahdua Kiki Hakiki menyampaikan apresiasi atas kunjungan Bupati dan jajaran Pemkab melalui Safari Ramadan. Ia berharap silaturahmi tersebut memperkuat hubungan pemerintah dan masyarakat serta menambah semangat membangun Buahdua ke arah yang lebih baik.
Melalui ajakan ini, pemerintah daerah ingin menegaskan pesan sederhana: sepuluh malam terakhir bukan “bonus” di ujung Ramadan, melainkan garis finis. Dan di garis finis, yang paling rugi adalah yang sudah lari jauh, lalu berhenti tepat sebelum pita.






