Malam takbiran di Sumedang tahun ini tidak hanya diwarnai lantunan takbir, tetapi juga dentuman bedug yang berpadu rapi dalam satu panggung tradisi. Masjid Agung Sumedang menggelar Festival Gema Takbir dan Tabuh Bedug Kampung Ramadan ke-15 pada Jumat malam, sebagai selebrasi menyambut Idulfitri 1447 H.
Panitia menyusun acara ini bukan semata hiburan, melainkan upaya merawat warisan budaya Islam lokal. Bedug, yang selama ini identik dengan penanda waktu dan syiar, diolah menjadi seni perkusi yang tetap menjaga suasana khidmat. Hasilnya, takbir terasa hidup, namun tidak kehilangan adabnya.
Festival juga diharapkan menjadi ruang kreatif lintas generasi. Pemuda muslim mendapat wadah untuk mengekspresikan energi mereka secara positif, sekaligus belajar mengemas tradisi menjadi kegiatan yang lebih teratur dan berdaya tarik bagi masyarakat luas.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir hadir dan memberikan apresiasi kepada DKM serta Ikatan Remaja Masjid Agung (IRMA) yang menginisiasi kegiatan. Ia menilai festival semacam ini ikut memperkuat syiar Ramadan dan membantu menjaga atmosfer religius hingga malam kemenangan.
Di sisi lain, bupati menyoroti manfaat sosialnya. Dengan adanya titik kegiatan yang terpusat di masjid, konsentrasi warga tidak menumpuk di jalan. Ini menjadi alternatif dari takbir keliling yang sering memicu kepadatan, risiko kecelakaan, dan gangguan ketertiban.
Menurutnya, masjid menyediakan ruang berkumpul yang lebih aman dan lebih terarah. Warga tetap bisa merayakan malam takbiran secara meriah, tetapi dengan pola yang tertib: datang, berzikir, bertakbir, menikmati tabuhan bedug, lalu pulang dengan aman.
Bupati juga menyebut festival ini sebagai ikhtiar melestarikan “tradisi lama yang baik”. Di saat banyak kebiasaan baik mudah tergeser tren sesaat, kegiatan seperti tabuh bedug dan gema takbir justru bisa menjadi sarana dakwah yang halus—menguatkan rasa, bukan sekadar ramai.
Dengan atmosfer yang hangat dan penuh kebersamaan, festival di Masjid Agung Sumedang memberi pesan sederhana: merayakan hari besar tidak harus selalu turun ke jalan. Kadang, cukup kembali ke pusatnya—masjid—lalu biarkan takbir dan bedug bekerja sebagai pengingat kebersamaan.






