Pemantauan hilal yang dilakukan Lembaga Falakiyah PCNU Batang di kawasan Jembatan Sigandu, Kabupaten Batang, pada Selasa malam (17/2/2026) tidak membuahkan hasil. Berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal berada di bawah ufuk sehingga mustahil untuk dirukyat.
Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Batang, Abdul Kafi, menjelaskan bahwa secara astronomis hilal telah terbenam lebih dahulu dibanding matahari saat waktu pengamatan. Karena berada pada posisi minus, hilal tidak mungkin terlihat melalui rukyat.
Ia juga menyebut momen ijtima (konjungsi) belum terjadi ketika matahari terbenam. Berdasarkan perhitungan, ijtima baru berlangsung pada pukul 19.02 WIB, setelah maghrib. Dengan demikian, upaya rukyat di wilayah Indonesia dipastikan tidak akan berhasil pada hari tersebut.
Dengan kondisi itu, bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari sehingga awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis (19/2/2026). Meski begitu, hasil rukyat tetap dilaporkan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari prosedur kelembagaan.
Abdul Kafi menegaskan penetapan resmi tetap menunggu sidang isbat pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia. Lokasi pengamatan di Jembatan Sigandu dipilih karena pertimbangan teknis, meski biasanya pemantauan dilakukan di rooftop Gedung Rifaiyah atau kawasan Pantai Ujungnegoro.
Pada Rabu (18/2/2026), LF PCNU Batang disebut kembali menggelar pemantauan di Gedung Rifaiyah. Kegiatan tersebut bersifat verifikasi dan pembelajaran, bukan sebagai dasar penetapan awal bulan maupun untuk dilaporkan.
Ia berharap kegiatan rukyat dan hisab ini menjadi sarana edukasi falakiyah bagi anggota dan masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi metode hisab dan rukyat dalam penentuan awal bulan Hijriah.






