Gelombang panas yang menyelimuti Inggris memicu gangguan di berbagai sektor kehidupan. Suhu yang mencapai sekitar 38 derajat Celsius membuat masyarakat berbondong-bondong membeli pendingin ruangan, sementara layanan kesehatan, transportasi, hingga fasilitas umum menghadapi tekanan besar akibat cuaca ekstrem.
Negara tersebut mencatat salah satu hari terpanas sepanjang sejarah untuk bulan Juni. Kondisi ini dipicu oleh fenomena tekanan udara tinggi yang menjebak udara panas di dekat permukaan bumi sehingga suhu bertahan pada level tinggi selama beberapa hari.
Badan Meteorologi Inggris (Met Office) mengeluarkan peringatan cuaca merah selama tiga hari berturut-turut. Selain suhu siang yang sangat tinggi, masyarakat juga menghadapi fenomena malam tropis, yaitu ketika suhu malam tidak turun di bawah 20 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat tubuh sulit melepaskan panas sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Cuaca yang tidak biasa itu memicu lonjakan permintaan pendingin ruangan. Pada 25 Juni, antrean panjang terlihat di depan gerai Lidl di Southampton. Banyak warga datang sejak pagi untuk mendapatkan AC yang stoknya sangat terbatas.
Menurut keterangan pegawai toko, seluruh persediaan yang baru datang habis terjual hanya dalam hitungan detik. Kejadian serupa juga dilaporkan di sejumlah cabang Lidl lainnya di Inggris. Tidak sedikit pelanggan yang pulang tanpa membawa AC karena stok telah habis lebih dulu, bahkan sebagian unit diborong oleh pembeli dalam jumlah banyak.
Suhu ekstrem juga membuat sejumlah ruang terbuka dipadati warga yang ingin mencari kesejukan. Di kawasan Hampstead Heath, London barat laut, puluhan orang nekat melompati pagar untuk berenang di kolam yang berada di area suaka margasatwa.
Petugas keamanan mengatakan pelanggaran seperti itu terjadi hampir setiap hari selama gelombang panas berlangsung. Mereka hanya dapat meminta pengunjung meninggalkan lokasi karena tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi.
Sebagian warga menilai sistem pemesanan area renang umum terlalu rumit sehingga menyulitkan masyarakat memperoleh akses resmi. Menanggapi kondisi tersebut, otoritas London memperkuat pembatas di sekitar kawasan danau guna mencegah pelanggaran lebih lanjut.
Dampak cuaca panas tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga sektor transportasi. Sejumlah operator kereta api harus mengurangi kecepatan perjalanan karena suhu tinggi meningkatkan risiko rel mengalami perubahan bentuk.
Asosiasi Otomotif Inggris (AA) juga melaporkan peningkatan sekitar 14 persen permintaan bantuan kendaraan dibandingkan kondisi normal. Sementara itu, kasus mobil mogok akibat mesin mengalami panas berlebih meningkat lebih dari 50 persen.
Tekanan terbesar juga dirasakan sektor kesehatan. London Ambulance Service mencatat kenaikan sekitar 50 persen panggilan darurat yang berkaitan dengan kondisi mengancam jiwa. Kasus henti jantung juga meningkat sekitar 30 persen selama periode cuaca panas tersebut.
Lonjakan pasien membuat sejumlah rumah sakit terpaksa menunda operasi yang tidak bersifat darurat agar tenaga medis dapat difokuskan pada penanganan kasus yang lebih mendesak.
CEO London Ambulance Service, Craig Harman, mengimbau masyarakat untuk rutin minum air, menghindari paparan sinar matahari langsung, serta membatasi aktivitas fisik di luar ruangan saat suhu sedang tinggi.
Sementara itu, Wali Kota London Sadiq Khan menilai ibu kota membutuhkan lebih banyak fasilitas pendingin udara di sekolah, rumah sakit, dan gedung perkantoran. Ia juga mengumumkan penyusunan rencana penanganan gelombang panas pertama bagi Kota London sebagai langkah menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan semakin sering terjadi.
Gelombang panas kali ini menunjukkan bahwa Inggris menghadapi tantangan baru dalam menjaga kesiapan infrastruktur dan layanan publik. Meningkatnya suhu tidak hanya memengaruhi kenyamanan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap sistem kesehatan, transportasi, dan aktivitas sehari-hari.






