Peringatan Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Sukabumi akan diramaikan dengan berbagai kegiatan yang tersebar dalam rentang April hingga Mei 2026. Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata menyiapkan sejumlah agenda untuk menghidupkan suasana perayaan sekaligus mengajak masyarakat ikut merasakan makna hari jadi kotanya.
Kepala Disporapar Kota Sukabumi, Rahmat Sukandar, menjelaskan bahwa peringatan HUT kota yang jatuh pada 1 April tidak hanya dipusatkan pada satu hari seremonial. Sejumlah kegiatan telah dijadwalkan agar perayaan berlangsung lebih meriah dan melibatkan partisipasi warga secara lebih luas. Pola seperti ini dinilai membuat peringatan hari jadi terasa lebih hidup daripada sekadar acara formal yang lewat begitu saja.
Beberapa kegiatan yang dikelola Disporapar di antaranya adalah karnaval budaya dan fun walk. Dua agenda tersebut direncanakan berlangsung pada April 2026 dan diharapkan dapat menarik antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan. Karnaval budaya akan menjadi ruang untuk menampilkan identitas dan kekayaan lokal, sedangkan fun walk memberi warna kegiatan yang lebih santai, sehat, dan bersifat kebersamaan.
Rahmat secara terbuka mengajak warga Kota Sukabumi untuk ikut meramaikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah disiapkan. Menurutnya, kehadiran masyarakat akan menjadi elemen penting dalam menyukseskan peringatan HUT ke-112. Semakin banyak warga terlibat, semakin kuat pula pesan bahwa ulang tahun kota bukan hanya milik pemerintah, melainkan milik semua orang yang hidup dan tumbuh di dalamnya.
Selain agenda yang diinisiasi pemerintah, perayaan ini juga akan dimeriahkan oleh kegiatan dari pihak lain. Salah satunya adalah Terambyar Fest yang direncanakan berlangsung di Stadion Suryakencana pada 19 April 2026. Acara tersebut disebut bakal menghadirkan artis nasional, sehingga berpotensi menjadi salah satu magnet utama yang menarik minat masyarakat untuk ikut meramaikan suasana HUT Kota Sukabumi.
Kehadiran acara dari unsur nonpemerintah menunjukkan bahwa peringatan hari jadi kota bisa menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas. Artinya, semangat perayaan tidak hanya datang dari agenda birokrasi, tetapi juga dari partisipasi komunitas, penyelenggara acara, dan warga yang ingin menjadikan momen ini lebih berwarna. Kalau kota punya ulang tahun, rasanya memang kurang lengkap kalau yang datang cuma sambutan dan kursi plastik.
Di balik semarak acara, Rahmat menegaskan bahwa HUT ke-112 Kota Sukabumi juga seharusnya menjadi momen refleksi. Bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga kesempatan untuk menilai apa yang sudah dicapai dan apa yang masih perlu dibenahi. Ia melihat peringatan ini sebagai waktu yang tepat untuk mengevaluasi langkah-langkah pembangunan serta menyusun rencana yang lebih baik bagi masa depan kota.
Harapan akhirnya cukup jelas, yaitu Kota Sukabumi dapat tumbuh menjadi kota yang lebih tertata, dengan warga yang hidup sejahtera dan bahagia. Karena itu, rangkaian acara HUT ke-112 bukan sekadar pesta tahunan, melainkan penanda semangat bersama untuk memperbaiki kota. Perayaan bisa berlangsung hanya beberapa hari, tetapi makna dan arah yang dibangun dari momen tersebut diharapkan bertahan jauh lebih lama.






