Komposisi penduduk Kota Sukabumi menunjukkan fakta menarik. Berdasarkan data yang diumumkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, kelompok Generasi Z menjadi populasi terbesar di kota tersebut hingga tahun 2025. Temuan ini memberi gambaran penting tentang arah demografi daerah, termasuk potensi, kebutuhan, dan tantangan yang akan dihadapi dalam beberapa tahun ke depan.
Total penduduk Kota Sukabumi pada 2025 tercatat sebanyak 377.987 jiwa. Dari jumlah itu, Gen Z atau warga yang lahir antara 1997 hingga 2009 menjadi kelompok paling dominan. Dengan rentang usia sekitar 17 sampai 29 tahun, jumlah mereka mencapai 93.393 jiwa. Angka ini menempatkan generasi muda dewasa sebagai kekuatan demografis utama di Kota Sukabumi.
Di posisi berikutnya ada Generasi Alpha, yaitu penduduk yang lahir dalam rentang usia sekitar 2 hingga 16 tahun. Jumlah kelompok ini mencapai 91.986 jiwa. Besarnya populasi Generasi Alpha menunjukkan bahwa Sukabumi juga memiliki basis penduduk usia anak dan remaja yang sangat kuat. Dalam konteks jangka panjang, hal ini berarti kebutuhan terhadap pendidikan, layanan tumbuh kembang, dan fasilitas publik ramah anak akan terus menjadi perhatian besar.
Setelah Gen Z dan Alpha, kelompok dengan jumlah terbanyak berikutnya adalah Generasi Milenial. Penduduk yang lahir antara 1981 hingga 1996 ini tercatat mencapai 82.588 jiwa. Kelompok ini umumnya berada pada usia produktif, menjadi bagian penting dari angkatan kerja, pelaku usaha, orang tua muda, hingga pengambil keputusan di banyak sektor sosial dan ekonomi.
Adapun Generasi X yang lahir antara 1965 sampai 1980 berjumlah 67.366 jiwa. Sementara kelompok Baby Boomer tercatat 34.856 jiwa. Di sisi lain, Silent Generation yang kini berusia 81 tahun ke atas berjumlah 7.798 jiwa. Meski jumlah kelompok usia senior lebih kecil dibanding generasi muda, kehadiran mereka tetap penting dalam perencanaan layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta dukungan keluarga dan komunitas.
Dominasi Gen Z di Sukabumi tentu tidak sekadar menjadi data statistik yang menarik dibaca. Komposisi ini bisa berdampak langsung pada kebijakan pembangunan. Ketika generasi muda menjadi kelompok terbesar, kebutuhan akan lapangan kerja, pelatihan keterampilan, akses pendidikan lanjutan, ruang kreatif, serta layanan digital akan semakin besar. Pemerintah daerah perlu membaca ini bukan sebagai angka mati, melainkan sebagai peta masa depan.
Di sisi lain, besarnya populasi usia muda juga membuka peluang. Kota dengan dominasi Gen Z dan Alpha memiliki modal besar untuk tumbuh lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Generasi ini cenderung akrab dengan teknologi, cepat menyerap informasi, dan punya pola berpikir yang lebih terbuka terhadap inovasi. Tentu, potensi itu hanya akan berguna jika ditopang kebijakan yang tepat. Kalau tidak, bonus demografi bisa berubah jadi bonus bikin pusing.
Karena itu, data kependudukan semacam ini penting dibaca lebih dalam. Bukan cuma untuk mengetahui generasi mana yang paling banyak, tetapi juga untuk menyusun strategi pembangunan yang sesuai dengan struktur penduduk. Bagi Kota Sukabumi, dominasi Gen Z menandakan satu hal yang cukup jelas: masa depan kota sangat dipengaruhi oleh generasi muda, dan keputusan hari ini akan menentukan apakah mereka tumbuh sebagai kekuatan atau justru tantangan.






