Tradisi tahunan Langenan Ban di Sungai Kecepak, Kabupaten Batang, kembali digelar untuk memeriahkan gebyar Syawalan 2026. Kegiatan ini menyedot ratusan peserta dan menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu warga karena memadukan unsur hiburan, kebersamaan, dan edukasi lingkungan dalam satu rangkaian acara.
Tahun ini, panitia menyiapkan hadiah yang cukup menarik. Sekitar 300 peserta berkesempatan memperebutkan dua ekor kambing sebagai hadiah utama, disertai berbagai hadiah hiburan lain seperti uang tunai dan barang elektronik. Wajar kalau antusiasmenya tinggi, karena lombanya seru, hadiahnya nyata, dan motivasinya juga unik: siapa tahu pulang-pulang bisa bawa kambing buat disate.
Panitia Langenan Ban, Muhammad Nasrul Fajar, mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya diadakan untuk meramaikan Syawalan. Menurutnya, acara ini juga menjadi media edukasi bagi anak-anak dan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi Sungai Kecepak yang selama ini berfungsi sebagai aliran irigasi penting bagi warga sekitar.
Ia menjelaskan, peserta yang ikut berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tidak sedikit pula warga perantauan yang sedang mudik turut ambil bagian. Kehadiran para pemudik dalam acara ini memperlihatkan bahwa Langenan Ban sudah berkembang menjadi agenda kebersamaan kampung yang punya daya tarik sosial cukup kuat.
Pesan lingkungan menjadi salah satu fokus utama yang terus ditekankan panitia. Melalui kegiatan yang menyenangkan, anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan. Pendekatan seperti ini dianggap lebih efektif karena edukasi tidak diberikan lewat ceramah panjang, melainkan melalui pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka.
Dampak kegiatan ini juga terasa dari sisi ekonomi lokal. Selama acara berlangsung, banyak pedagang dadakan bermunculan dan meraup keuntungan dari penjualan makanan ringan, minuman, hingga mainan tradisional. Artinya, Langenan Ban bukan hanya menghidupkan suasana sungai, tetapi juga ikut menggoyang roda ekonomi kampung dengan cara yang sederhana namun nyata.
Salah satu warga asal Kecepak yang kini mencari nafkah di Tangerang, Nisa, mengaku senang karena kampung halamannya semakin dikenal lewat acara tahunan tersebut. Ia bahkan menyebut banyak kerabat dari luar kota ikut datang dan berpartisipasi. Menurutnya, agenda seperti ini membuat suasana mudik terasa lebih hidup dan punya alasan untuk dinantikan setiap tahun.
Semangat yang sama juga datang dari peserta lain. Kaka, misalnya, kembali ikut setelah pada tahun sebelumnya meraih juara ketiga dan membawa pulang hadiah uang tunai. Tahun ini ia kembali turun dengan target yang jauh lebih spesifik: juara satu dan membawa pulang kambing. Ambisinya sederhana, tetapi jujur sekali—jarang ada target kompetisi yang ujungnya sudah dibayangkan jadi sate.
Dengan perpaduan hiburan rakyat, pesan menjaga lingkungan, serta dampak ekonomi bagi warga sekitar, Langenan Ban Kecepak menunjukkan bahwa perayaan tradisional bisa tetap relevan dan bermakna. Ini bukan sekadar lomba main air, tetapi cara kreatif sebuah komunitas menjaga kebersamaan sekaligus mengajarkan nilai penting pada generasi muda.






