Semangat berbagi di bulan Ramadan kembali terlihat di Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Sejumlah elemen pemuda berkolaborasi membagikan 200 paket takjil kepada masyarakat dan pengguna jalan yang melintas sebagai bentuk kepedulian sosial selama bulan suci.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya Muda Jakarta, Democare, Karang Taruna, Rumah Belajar Tiga Siku, serta elemen lainnya. Aksi sosial tersebut juga mendapat dukungan dari jajaran Kelurahan Meruya Utara, termasuk kehadiran langsung Lurah Meruya Utara Agustiawan bersama perangkat kelurahan.
Ketua Muda Jakarta, Adib Bukhori, mengatakan bahwa kegiatan berbagi takjil ini telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Menurutnya, keberlanjutan program tersebut menjadi bukti bahwa semangat berbagi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi diupayakan terus tumbuh menjadi kebiasaan sosial yang konsisten.
Adib menjelaskan, pembagian takjil bukan hanya dimaksudkan untuk membantu warga yang sedang dalam perjalanan menjelang waktu berbuka, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antarorganisasi pemuda. Ramadan, menurut dia, adalah waktu yang tepat untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus menguatkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Paket takjil dibagikan kepada masyarakat sekitar dan para pengguna jalan yang melintas di wilayah Meruya Utara. Antusiasme warga terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi karena selain membantu kebutuhan berbuka, aksi ini juga menunjukkan bahwa komunitas lokal masih punya perhatian nyata terhadap lingkungan sekitarnya.
Lurah Meruya Utara Agustiawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menilai kegiatan tersebut sangat positif karena bukan hanya menghadirkan bantuan sederhana berupa makanan berbuka, tetapi juga menumbuhkan suasana kebersamaan dan semangat kepedulian yang kuat di bulan Ramadan.
Menurutnya, kegiatan semacam ini layak terus dipertahankan dan bahkan diperluas agar semakin banyak pihak ikut tergerak untuk peduli terhadap sesama. Dalam konteks kehidupan perkotaan yang serba cepat, aksi kecil seperti membagikan takjil justru bisa menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial tidak harus mahal atau rumit. Kadang yang dibutuhkan cuma niat, kerja sama, dan sedikit tenaga lebih daripada rebahan sebelum magrib.
Melalui kolaborasi ini, para relawan berharap budaya gotong royong dan semangat berbagi tetap hidup di tengah masyarakat. Kegiatan pembagian 200 paket takjil itu pun bukan hanya menjadi aksi sosial sesaat, tetapi simbol bahwa pemuda di tingkat kelurahan tetap bisa menjadi penggerak kepedulian, menciptakan keberkahan Ramadan, dan menularkan contoh baik bagi lingkungan sekitarnya.






