AGAMNETWORK.COM – Prinsip bahwa alam adalah ruang kelas terbaik diwujudkan nyata oleh siswa-siswa SMP IT Insan Permata Kota Batu. Pada Sabtu (1/11), mereka meninggalkan ruang kelas konvensional untuk menggelar kegiatan pembelajaran luar ruang (outdoor learning) bertajuk “Goes to School di Gunung.” Ini bukan sekadar mendaki biasa, melainkan sebuah misi konservasi jangka panjang.
Sepuluh siswa yang tergabung dalam klub lingkungan sekolah tersebut fokus pada aksi nyata di Gunung Bokong, Dusun Toyomerto. Misi mereka diawali dengan “Operasi Bersih Bokong,” yaitu menyisir area Pos 1 pendakian untuk mengangkut sampah non-organik yang ditinggalkan oleh para pendaki sebelumnya. Sampah-sampah ini tidak hanya mengganggu estetika tetapi juga berpotensi mengancam kesuburan tanah dan kehidupan organisme lokal.
Fathan, salah satu peserta, mengungkapkan antusiasmenya terhadap pengalaman ini. “Ini seperti tugas sekolah yang hidup, Bu. Kami belajar langsung bahwa menjaga hutan itu butuh aksi, bukan hanya teori. Rasanya lega bisa berkontribusi, sekecil apapun,” ceritanya dengan semangat, menunjukkan perubahan paradigma pembelajaran yang mereka rasakan.
Kegiatan edukatif dan ekologis ini mendapat pengakuan tinggi dari otoritas setempat. Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat, Ahmad Syaifudin atau Gus Udin, memberikan “rapor istimewa” atas inisiatif tersebut. Gus Udin memuji, “Ini baru generasi muda! Mereka tidak hanya ‘mengambil’ keindahan alam, tapi juga ‘mengembalikan’ dengan menanam. Semoga jadi virus positif bagi pendaki lain.”
Sebagai bentuk dukungan dan apresiasi konkret, Gus Udin menghibahkan 15 bibit Pohon Kesek (Dodonaea viscosa). Pohon Kesek adalah tumbuhan endemik Gunung Bokong yang saat ini populasinya mulai langka. Pohon ini memiliki peran ekologis krusial; akarnya dikenal kuat dalam mencegah erosi, sementara daunnya menjadi habitat penting bagi serangga penyerbuk. Penanaman bibit ini di sepanjang jalur pendakian merupakan investasi ekologis untuk mencegah longsor dan menjaga sumber air.
Pendapat senada juga disampaikan oleh Agung Wicaksono, Asper BKPH Pujon. Ia menekankan vitalnya pendidikan konservasi ditanamkan sejak usia dini. “Mereka adalah duta lingkungan muda. Kepedulian mereka adalah modal sosial yang tak ternilai. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di Jawa Timur,” ujarnya. Aksi sederhana siswa SMP IT Insan Permata ini membuktikan bahwa setiap langkah kecil yang diintegrasikan dalam pendidikan karakter dan lingkungan, jika dilakukan bersama-sama, akan membawa dampak besar bagi kelestarian bumi pertiwi.






