“Jokowisasi” Ciptakan Budaya Politik Baru, Ray Rangkuti Soroti Pengawasan Abadi terhadap Mantan Presiden

Avatar photo

- Penulis Berita

Minggu, 2 November 2025 - 18:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ray Rangkuti

Ray Rangkuti

RAGAMNETWORK.COM – Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini menjadi subjek sorotan publik yang intens, bahkan setelah beliau melepaskan jabatannya sebagai kepala negara. Pengamat politik Ray Rangkuti menilai fenomena ini bukan sekadar dinamika biasa, melainkan sebuah peringatan serius bagi para pejabat khususnya mantan presiden bahwa setiap langkah kebijakan yang diambil saat berkuasa akan terus dikritisi setelah kekuasaan berakhir.

Dalam tayangan video podcast PHD 4K di kanal Forum Keadilan TV, pada Minggu (2/11/2025), Ray Rangkuti menyebut situasi yang dialami Jokowi sebagai suatu hal yang benar-benar baru dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia. Ia menekankan aspek unik dari situasi ini.

“Ini kali pertama dalam sejarah, kita lihat seorang mantan presiden yang terus diusik setelah tidak lagi menjabat,” ujar Ray. Meskipun terdapat pihak-pihak yang mungkin menyesalkan kondisi yang dialami mantan pemimpin tersebut, Ray justru memandang fenomena ini sebagai dinamika positif bagi kehidupan demokrasi. “Supaya orang terbiasa bahwa jabatan itu biasa-biasa saja,” katanya.

Ray Rangkuti bahkan secara khusus melontarkan sebuah istilah baru, yakni “Jokowisasi,” untuk mengilustrasikan fenomena mantan presiden yang terus-menerus menjadi subjek perbincangan publik, investigasi, dan kritik. Ia bahkan berkelakar mengenai potensi penerapan istilah tersebut pada pejabat lain.

Baca Juga :  Anggaran Rp11,6 Triliun Digelontorkan, IKN Mulai Bangun Pusat Yudikatif dan Legislatif

“Ini Anda bisa lho di-Jokowisasi setelah tidak jadi pejabat, diulik terus,” ucapnya. Menurut Ray, pengalaman yang kini dialami Jokowi dapat menjadi pengingat berharga bagi para pemimpin agar selalu berhati-hati dan tulus dalam menjalankan kekuasaan mereka.

“Kalau selama ini semua mantan presiden aman dan nyaman setelah lengser, itu membuat mereka merasa tidak perlu sungguh-sungguh membangun karena toh tetap dipuji,” jelasnya, menyinggung era sebelumnya. Oleh karena itu, ia melihat kejadian ini sebagai momen penting. “Apa yang terjadi pada Pak Jokowi ini, menurut saya, menjadi peringatan bagi siapa pun yang memimpin,” imbuh Ray.

Ray juga mencatat deretan isu yang terus menyeret nama Jokowi dalam setahun terakhir. Isu-isu tersebut bervariasi, mulai dari polemik seputar ijazah, isu pemakzulan, hingga yang terbaru adalah proyek kereta cepat Whoosh. “Dalam satu tahun, diulik terus. Dari ijazah, pindah ke pemakzulan, ke ijazah anaknya, sekarang ke Whoosh,” paparnya, menunjukkan intensitas pengawasan.

Ia berpendapat bahwa fenomena ini mencerminkan adanya segmen masyarakat yang masih secara serius mempertanyakan sejumlah kebijakan dan keputusan penting yang diambil selama kepemimpinan Jokowi. Ray memberikan pesan tegas kepada para pemimpin masa depan.

Baca Juga :  Penerimaan Pajak Jakarta Barat Tembus Rp7,1 Triliun, PKB Jadi Penyumbang Terbesar

“Apa yang terjadi? Artinya siapapun pemimpin masa depan, jangan menyimpan sesuatu yang bisa dipersoalkan setelah Anda tak lagi berkuasa. Karena itu menyakitkan, di masa yang seharusnya bisa dinikmati,” tegasnya, menyoroti konsekuensi jangka panjang dari kekuasaan.

Lebih lanjut, Ray Rangkuti menarik perbandingan antara reaksi publik terhadap Jokowi dengan reaksi publik terhadap Soeharto setelah keduanya lengser. Ia mencatat perbedaan mendasar dalam momentum pergantian kekuasaan. “Kalau Pak Harto kan ada peristiwa besar tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaannya. Tapi di Pak Jokowi ini tidak ada peristiwa besar yang memaksa beliau turun, semuanya berjalan sesuai proses hukum dan politik. Tapi justru setelah itu, banyak hal dipersoalkan publik,” jelas Ray.

Kondisi tersebut, menurutnya, mengindikasikan adanya perubahan signifikan dalam budaya politik nasional. Masyarakat kini dinilai lebih berani dalam mengkritisi dan mengevaluasi kepemimpinan tanpa harus menunggu momentum politik besar atau kerusuhan. “Fenomena ini bisa mengubah kultur pejabat yang selama ini merasa aman setelah menjabat. Sekarang, publik bisa terus menilai dan menguliti,” pungkas Ray, menggarisbawahi era baru pengawasan publik yang abadi.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih Modern Mulai Diterapkan di Pesisir Bangka Selatan, Pacu Ekonomi Kampung Nelayan

Berita Terkait

BAZNAS Bangun Kelas Darurat untuk Jaga Semangat Belajar Anak Gaza
Prada Nawawi Harumkan Indonesia Juara Hifdzil Quran 30 Juz Libya
Prabowo dan Kabinet Tunaikan Zakat Istana melalui BAZNAS RI
Prabowo Resmikan 218 Jembatan Nasional, TNI Dampingi dari Hambalang Bogor
Panglima TNI Soroti Ancaman Siber Saat HUT Ke-65 Kostrad
Prabowo Menangis Saat Apresiasi BAZNAS Salurkan Bantuan Kemanusiaan Palestina
Panglima TNI Pimpin Prosesi Penyerahan Jenazah dan Pemakaman Try Sutrisno
BAZNAS Salurkan 2.400 Pakaian Baru untuk Pengungsi Gaza Saat Ramadan
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:44 WIB

BAZNAS Bangun Kelas Darurat untuk Jaga Semangat Belajar Anak Gaza

Senin, 16 Maret 2026 - 11:14 WIB

Prada Nawawi Harumkan Indonesia Juara Hifdzil Quran 30 Juz Libya

Sabtu, 14 Maret 2026 - 10:22 WIB

Prabowo dan Kabinet Tunaikan Zakat Istana melalui BAZNAS RI

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:15 WIB

Prabowo Resmikan 218 Jembatan Nasional, TNI Dampingi dari Hambalang Bogor

Minggu, 8 Maret 2026 - 10:18 WIB

Panglima TNI Soroti Ancaman Siber Saat HUT Ke-65 Kostrad

Berita Terbaru