Gangguan Teknis Diduga Jadi Penyebab Satelit Starlink Alami Jatuh Terkendali

Avatar photo

- Penulis Berita

Kamis, 25 Desember 2025 - 00:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah dek roket SpaceX Falcon 9 berhasil mendarat di sebuah kapal di laut. Foto: SpaceX

Sebuah dek roket SpaceX Falcon 9 berhasil mendarat di sebuah kapal di laut. Foto: SpaceX

Salah satu satelit Starlink milik SpaceX dilaporkan mengalami kegagalan fungsi dan jatuh kembali menuju atmosfer Bumi. Satelit tersebut diperkirakan akan sepenuhnya terbakar dalam beberapa pekan ke depan tanpa menimbulkan ancaman bagi keselamatan di orbit rendah.

Insiden terjadi pekan lalu ketika satelit Starlink mengorbit pada ketinggian sekitar 418 kilometer. SpaceX menyebut kehilangan kontak dengan satelit tersebut, disertai pembuangan tangki bahan bakar serta pelepasan sejumlah kecil objek berukuran kecil yang masih dapat dilacak. Perusahaan menduga penyebab kejadian berasal dari masalah internal, bukan akibat tabrakan dengan objek luar angkasa lain.

Untuk memastikan kondisi satelit, SpaceX meminta perusahaan teknologi antariksa Vantor melakukan pengamatan visual. Melalui satelit pengamat Bumi WorldView-3, Vantor berhasil memotret satelit Starlink dari jarak sekitar 241 kilometer saat melintas di atas wilayah Alaska. Citra beresolusi tinggi hingga 12 sentimeter tersebut memberikan gambaran detail mengenai kondisi fisik satelit.

Vantor menyampaikan bahwa hasil pencitraan menunjukkan satelit masih relatif utuh. Informasi ini dinilai krusial bagi SpaceX untuk menilai tingkat kerusakan serta memprediksi perilaku satelit saat memasuki kembali atmosfer Bumi.

Baca Juga :  Apple Intelligence Hadapi Tantangan Baru di Tengah Perombakan Tim AI

Pihak SpaceX menegaskan bahwa data tambahan mengindikasikan hanya terdapat sedikit puing yang dapat dilacak. Seluruh bagian satelit diperkirakan akan hancur sepenuhnya ketika kembali memasuki atmosfer, sehingga tidak menimbulkan risiko bagi satelit lain maupun kendaraan antariksa di orbit Bumi rendah.

Starlink saat ini merupakan jaringan satelit terbesar di dunia dengan sekitar 9.300 satelit aktif, mencakup sekitar 65 persen dari total satelit operasional di orbit Bumi. Meski memberikan manfaat besar dalam penyediaan layanan internet global, keberadaan jaringan raksasa ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait peningkatan sampah antariksa, gangguan pengamatan astronomi, serta potensi risiko tabrakan di ruang angkasa.

Berita Terkait

Amazon Leo Gandeng Delta untuk Wi-Fi Pesawat dan Tantang Dominasi Starlink
Starlink Percepat Layanan Satelit Asia-Pasifik lewat D2D dan Kemitraan Operator Besar
Krisis RAM Disebut Jadi Kesempatan Apple Perluas Pengaruh di Pasar PC
Apple Rayakan 50 Tahun, Dari Garasi California ke Raksasa Teknologi Dunia
Alexa+ Resmi Hadir di Inggris, Amazon Bawa Fitur Lokal dan Harga Baru
OpenAI Pertimbangkan Sora Masuk ke ChatGPT untuk Bikin Video Langsung
Netflix Akuisisi InterPositive, Startup AI Ben Affleck untuk Pasca Produksi
Harga RAM Samsung untuk Apple Naik Tajam, iPhone dan Mac Terancam Lebih Mahal

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 09:41 WIB

Amazon Leo Gandeng Delta untuk Wi-Fi Pesawat dan Tantang Dominasi Starlink

Jumat, 3 April 2026 - 11:05 WIB

Starlink Percepat Layanan Satelit Asia-Pasifik lewat D2D dan Kemitraan Operator Besar

Rabu, 1 April 2026 - 09:24 WIB

Krisis RAM Disebut Jadi Kesempatan Apple Perluas Pengaruh di Pasar PC

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:07 WIB

Apple Rayakan 50 Tahun, Dari Garasi California ke Raksasa Teknologi Dunia

Jumat, 20 Maret 2026 - 10:58 WIB

Alexa+ Resmi Hadir di Inggris, Amazon Bawa Fitur Lokal dan Harga Baru

Berita Terbaru