Salah satu satelit Starlink milik SpaceX dilaporkan mengalami kegagalan fungsi dan jatuh kembali menuju atmosfer Bumi. Satelit tersebut diperkirakan akan sepenuhnya terbakar dalam beberapa pekan ke depan tanpa menimbulkan ancaman bagi keselamatan di orbit rendah.
Insiden terjadi pekan lalu ketika satelit Starlink mengorbit pada ketinggian sekitar 418 kilometer. SpaceX menyebut kehilangan kontak dengan satelit tersebut, disertai pembuangan tangki bahan bakar serta pelepasan sejumlah kecil objek berukuran kecil yang masih dapat dilacak. Perusahaan menduga penyebab kejadian berasal dari masalah internal, bukan akibat tabrakan dengan objek luar angkasa lain.
Untuk memastikan kondisi satelit, SpaceX meminta perusahaan teknologi antariksa Vantor melakukan pengamatan visual. Melalui satelit pengamat Bumi WorldView-3, Vantor berhasil memotret satelit Starlink dari jarak sekitar 241 kilometer saat melintas di atas wilayah Alaska. Citra beresolusi tinggi hingga 12 sentimeter tersebut memberikan gambaran detail mengenai kondisi fisik satelit.
Vantor menyampaikan bahwa hasil pencitraan menunjukkan satelit masih relatif utuh. Informasi ini dinilai krusial bagi SpaceX untuk menilai tingkat kerusakan serta memprediksi perilaku satelit saat memasuki kembali atmosfer Bumi.
Pihak SpaceX menegaskan bahwa data tambahan mengindikasikan hanya terdapat sedikit puing yang dapat dilacak. Seluruh bagian satelit diperkirakan akan hancur sepenuhnya ketika kembali memasuki atmosfer, sehingga tidak menimbulkan risiko bagi satelit lain maupun kendaraan antariksa di orbit Bumi rendah.
Starlink saat ini merupakan jaringan satelit terbesar di dunia dengan sekitar 9.300 satelit aktif, mencakup sekitar 65 persen dari total satelit operasional di orbit Bumi. Meski memberikan manfaat besar dalam penyediaan layanan internet global, keberadaan jaringan raksasa ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait peningkatan sampah antariksa, gangguan pengamatan astronomi, serta potensi risiko tabrakan di ruang angkasa.






