SpaceX mulai memperlihatkan pengaruh yang semakin besar di pasar konektivitas satelit Asia-Pasifik melalui perluasan layanan Starlink berbasis Direct-to-Device atau D2D. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah operator besar di kawasan ini mengumumkan rencana konkret untuk mengaktifkan layanan yang memungkinkan perangkat terhubung langsung ke satelit, terutama untuk kebutuhan pesan, data dasar, dan komunikasi darurat.
Perkembangan tersebut menandai fase penting bagi industri telekomunikasi kawasan. Jika sebelumnya layanan satelit konsumen masih identik dengan perangkat khusus atau terminal tambahan, model D2D membawa konsep yang lebih dekat ke penggunaan harian. Pengguna cukup mengandalkan perangkat biasa, sementara operator dan penyedia satelit membangun jembatan layanan dari orbit ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.
Di Selandia Baru, Spark menjadi salah satu operator yang bergerak cepat. Perusahaan ini telah menetapkan aktivasi layanan berbasis Starlink untuk menjangkau daerah pedesaan dan kawasan terpencil. Menariknya, skema tarif yang ditawarkan bersifat berbeda-beda. Sebagian pelanggan akan memperoleh akses dengan komponen gratis tertentu, sementara pelanggan lain perlu membayar biaya tambahan mulai sekitar 10 dolar Selandia Baru. Fokus penggunaannya pada tahap awal diarahkan pada pesan, cuaca, dan pemetaan untuk membantu perencanaan rute.
Sementara itu di Jepang, langkah yang diumumkan jauh lebih tegas dari sisi jadwal. NTT Docomo sudah menetapkan 27 April sebagai tanggal peluncuran layanan “Docomo Starlink Direct”. Pada fase awal, layanan ini ditujukan terutama bagi pelanggan profesional dan akan tersedia secara gratis lebih dulu. Selain kebutuhan cuaca dan pemetaan, perusahaan juga menekankan manfaat lain yang sangat relevan untuk Jepang, yakni ketahanan jaringan ketika terjadi bencana alam.
SoftBank Corp juga tidak tinggal diam. Perusahaan ini mengonfirmasi telah menandatangani perjanjian untuk menawarkan layanan D2D berbasis Starlink dalam waktu dekat. Fokus SoftBank mirip dengan operator lain, yakni mendukung konektivitas darurat dan menjangkau wilayah yang sulit diakses. Tahap pertama penggunaannya diproyeksikan berputar pada transfer pesan serta data dasar, yang cukup untuk menjaga komunikasi saat infrastruktur konvensional terganggu.
Namun peta persaingan di kawasan ini tidak akan sepenuhnya dikuasai SpaceX tanpa perlawanan. Rakuten Mobile tengah menyiapkan alternatif melalui kerja sama dengan AST SpaceMobile, dengan layanan yang dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini. Kehadiran Rakuten memberi sinyal bahwa operator lokal tidak sekadar menjadi penumpang dalam gelombang konektivitas satelit, tetapi mulai membangun opsi kompetitifnya sendiri.
Rangkaian pengumuman ini memperlihatkan munculnya model bisnis baru dalam layanan satelit regional. Operator mulai menerapkan akses yang dibedakan menurut segmen pelanggan, menaruh perhatian besar pada keberlangsungan layanan saat keadaan darurat, serta membuka kemungkinan munculnya persaingan yang lebih beragam antara pemain global dan operator lokal. Ini bukan lagi sekadar cerita soal internet dari langit, tetapi soal bagaimana layanan itu dijadikan bagian nyata dari strategi telekomunikasi nasional.
Ke depan, yang akan menentukan keberhasilan layanan D2D di Asia-Pasifik bukan hanya teknologi satelitnya, tetapi juga bagaimana operator menyesuaikannya dengan kebutuhan pengguna di lapangan. Wilayah terpencil, kawasan rawan bencana, dan pasar yang masih belum sepenuhnya terlayani jaringan konvensional bisa menjadi penggerak utama adopsi. Kalau momentumnya terjaga, Starlink dan para pesaingnya berpeluang mengubah cara kawasan ini memandang konektivitas—dari sekadar layanan tambahan menjadi infrastruktur penting yang benar-benar dipakai saat dibutuhkan.






