Suasana pembelajaran strategis terasa kuat di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI ketika Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hadir dalam sebuah forum tertutup pada Senin, 23 Februari 2026. Agenda tersebut difokuskan pada pembacaan situasi geopolitik global yang kian kompleks dan cepat berubah.
SBY datang bukan sekadar memenuhi undangan seremonial. Kehadirannya dimanfaatkan untuk memberi kerangka berpikir kepada peserta pendidikan reguler serta jajaran personel Lemhannas agar mampu memahami konteks besar di balik berbagai peristiwa internasional yang memengaruhi kepentingan Indonesia.
Di awal paparan, SBY menekankan bahwa dinamika global tidak lagi bergerak linear. Pergeseran pusat kekuatan, tarik-menarik kepentingan kawasan, dan kontestasi ekonomi-politik sering kali hadir bersamaan, sehingga menuntut ketelitian dalam membaca peluang dan ancaman.
Ia menyoroti pentingnya membangun kewaspadaan strategis, terutama ketika perubahan di tingkat global bisa berimbas pada rantai pasok, stabilitas kawasan, hingga keputusan investasi. Menurutnya, negara yang terlambat mengantisipasi perubahan akan menanggung biaya kebijakan yang lebih besar.
Gubernur Lemhannas RI, Ace Hassan Syadzily, saat membuka kegiatan itu menyampaikan keyakinannya bahwa SBY memiliki perspektif yang khas karena pengalaman memimpin Indonesia di tengah berbagai tantangan internasional. “Saat ini beliau pasti sangat memonitor dan mengikuti proses perkembangan geopolitik global… tentu banyak sekali pengetahuan yang akan diberikan kepada kita semua,” ujarnya di Jakarta Pusat.
Dalam sesi diskusi, SBY mendorong peserta untuk tidak terpaku pada satu variabel. Keamanan, diplomasi, ekonomi, teknologi, hingga isu lingkungan saling berkaitan dan dapat memunculkan risiko baru bila dikelola secara terpisah.
Ia juga menyinggung kebutuhan Indonesia untuk menavigasi panggung internasional dengan pendekatan seimbang: menjaga kepentingan nasional, tetapi tetap aktif menjalin kerja sama yang saling menguntungkan. Prinsip kehati-hatian dinilai penting, terutama saat ketegangan global meningkat.
Lemhannas menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkaya wawasan strategis para peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (P3N) XXVII dan Program Pendidikan Reguler Angkatan (P4N) LXIX Tahun Anggaran 2026. Harapannya, materi yang disampaikan dapat memperkuat kapasitas analisis mereka dalam menghadapi lingkungan strategis yang berubah cepat.
Di akhir forum, pesan yang mengemuka adalah perlunya kepemimpinan yang mampu berpikir jauh ke depan: peka terhadap sinyal perubahan, berani memetakan risiko, dan cermat memanfaatkan peluang yang muncul dari dinamika geopolitik dunia.






