RAGAMNETWORK.COM – Kota Probolinggo kembali menegaskan eksistensinya di panggung mode bergengsi Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025. Keikutsertaan ini menandai kali kedua Dekranasda Kota Probolinggo bekerja sama dengan desainer lokal untuk mempromosikan batik khas daerah dengan kemasan yang lebih modern, ekspresif, dan berkarakter.
SFP 2025 mengusung tema besar “Rebellion” (Pemberontakan). Kota Probolinggo menampilkannya melalui koleksi utama berjudul “Larasing Rupo”, sebuah karya kolaboratif dari sembilan desainer lokal dengan total sepuluh busana. Koleksi ini dipimpin oleh Ketua Dekranasda, dr. Evariani Aminuddin.
Secara filosofis, Larasing Rupo mengangkat konsep harmoni dalam rupa, wujud, dan makna, yang secara inheren menantang perspektif konvensional mengenai keindahan dalam dunia mode.
“Dengan bangga Kota Probolinggo kembali tampil di Surabaya Fashion Parade. Tahun ini kami mempersembahkan ‘Larasing Rupo’, sebuah karya yang tidak hanya memamerkan keindahan batik khas Probolinggo, tetapi juga membawa filosofi tentang harmoni,” urai dr. Evariani Aminuddin kala jumpa pers.
Secara makna, Larasing Rupo menggambarkan keselarasan antara wujud, bentuk, dan pesan yang terkandung di dalamnya. Inti dari motif yang digunakan adalah Asmara Dhana yang diterjemahkan ulang dengan memasukkan unsur-unsur biota laut Probolinggo. Biota yang diangkat meliputi ubur-ubur, kerang, dan ganggang laut, yang keseluruhannya menjadi simbol harmoni dalam kehidupan bawah laut.
Fenomena kemunculan ribuan ubur-ubur di perairan Probolinggo, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menjadi titik inspirasi utama di balik koleksi ini.
Istri Wali Kota Dokter Aminuddin ini menjelaskan maksud dari rebellion mereka. “Kami ingin menunjukkan bahwa keindahan bisa lahir dari mana saja, termasuk dari laut Probolinggo yang kaya akan kehidupan. Ini selaras dengan tema Rebellion, karena kami ingin menantang persepsi konvensional tentang cantik bahwa keindahan tidak harus sempurna, tetapi harus selaras,” imbuhnya.
Dokter Evariani merasa bangga bisa ikut mewadahi para desainer lokal. Harapannya adalah membawa nama Kota Probolinggo agar semakin dikenal khalayak luas di panggung nasional.
Para desainer lokal menghadirkan ragam karya dengan interpretasi masing-masing terhadap tema Rebellion. Vivin Nur Fithria, sebagai desainer utama koleksi Larasing Rupo, memadukan motif batik Asmara Dhana dengan elemen biota laut. Sementara desainer lain seperti Endik Suwandi menghadirkan busana pria berjudul “Mangga Sukur Jayasena” yang menonjolkan karakter maskulin.
Desainer lainnya yang turut serta adalah Muchlis Ansori (Aan Famous) dengan karya “Harsa Bodhag” yang kuat, dan Dyas Famous dengan “Phala Probolinggo” yang menonjolkan kekayaan visual budaya lokal. Lina Mardiana dengan karya “Segara Sundari” yang feminin, serta Inggita Safitri dengan “Fiora Lituhayu” yang elegan. Mardiya dengan “Padma Jaladri” bernuansa laut, dan Aisha Alva dengan “Samira Manjari” yang penuh energi, melengkapi daftar tersebut.
Melalui keberanian ini, dr. Evariani ingin menegaskan bahwa Kota Probolinggo memiliki kreativitas, keterampilan, dan karakter kuat untuk bersaing di panggung mode nasional. SFP sendiri tahun ini memasuki usia 18 tahun, dan pendirinya, Dian Apriliana Dewi, menegaskan bahwa tema “Rebellion” adalah simbol keberanian berkarya tanpa batas.






