Dinas Kesehatan Kota Sukabumi mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak setelah menemukan puluhan kasus sejak akhir 2025 hingga Maret 2026. Temuan tersebut diperoleh melalui pemantauan aktif serta penyelidikan epidemiologi terhadap warga yang mengalami gejala khas penyakit menular tersebut.
Kepala Dinkes Kota Sukabumi Ida Halimah menjelaskan, meskipun kasus campak ditemukan, kondisi di daerahnya belum masuk kategori yang memerlukan penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun, langkah pencegahan tetap diperkuat agar penyebaran penyakit tidak meluas, terlebih pada masa mobilitas masyarakat yang meningkat menjelang arus mudik.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengungkapkan bahwa selama periode pemantauan, pihaknya mendeteksi 32 kasus suspek campak. Setelah melalui pemeriksaan laboratorium, sebanyak 23 kasus dinyatakan positif. Ia menambahkan, hingga kini belum ada laporan kematian akibat campak di Kota Sukabumi.
Menurut Denna, situasi campak secara nasional masih perlu mendapat perhatian serius. Ia menyebut Indonesia menempati posisi tinggi dalam jumlah kasus campak, sementara di Jawa Barat sudah ada sejumlah daerah yang menetapkan status KLB. Meski begitu, ia menilai tren kasus di Kota Sukabumi pada 2026 cenderung mulai melandai dibanding peningkatan yang sempat terlihat pada tahun sebelumnya.
Dinkes mengimbau masyarakat untuk membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menggunakan masker saat berada di tengah kerumunan, menjaga asupan gizi, serta tetap waspada di lingkungan dengan mobilitas tinggi. Imbauan ini dinilai penting karena suasana mudik dapat memicu peningkatan interaksi massal yang berpotensi mempercepat penularan.
Selain itu, Dinkes menekankan pentingnya imunisasi dasar lengkap, khususnya bagi anak balita. Berdasarkan data tahun 2025, cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Sukabumi telah mencapai 98,9 persen atau melampaui standar nasional. Namun, masih ada sekitar 1,1 persen anak yang belum memperoleh vaksin, baik karena faktor keluarga maupun kendala layanan imunisasi.
Di akhir keterangannya, Denna meminta para orang tua untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan memastikan anak-anak mendapat asupan makanan bergizi seimbang. Langkah sederhana itu dinilai penting untuk memperkuat daya tahan tubuh sekaligus menekan risiko penyebaran campak di tengah masyarakat.






