Pemerintah Kota Cimahi mulai memperkuat strategi mitigasi bencana dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada evakuasi dan penanganan darurat, tetapi juga perlindungan dokumen penting milik warga. Salah satu langkah yang diperkenalkan adalah aplikasi Kandaga, sebuah inovasi digital yang diposisikan sebagai brankas aman untuk menyimpan data administrasi masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
Peluncuran inovasi ini dilakukan dalam kegiatan sosialisasi mitigasi bencana yang berlangsung di Aula Kecamatan Cimahi Selatan pada Senin, 30 Maret 2026. Melalui BPBD Kota Cimahi, pemerintah menegaskan bahwa ancaman bencana di wilayah tersebut terus meningkat. Risiko seperti banjir, longsor, cuaca ekstrem, hingga potensi gempa dari aktivitas Sesar Lembang membuat pendekatan mitigasi perlu diperluas ke aspek-aspek yang selama ini jarang mendapat perhatian, termasuk perlindungan dokumen sipil.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menilai rendahnya kesiapsiagaan masyarakat masih menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar dampak bencana. Karena itu, edukasi publik dan integrasi teknologi dianggap sebagai kombinasi penting untuk menekan risiko. Dalam pandangan pemerintah, kesiapan menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan tahu jalur evakuasi, tetapi juga bagaimana memastikan dokumen penting tidak hilang setelah kejadian.
Dari kebutuhan itulah Kandaga diperkenalkan. Nama ini merupakan singkatan dari Kanal Dokumen Administrasi Terintegrasi, aplikasi yang dikembangkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Cimahi. Kandaga memungkinkan warga menyimpan salinan digital berbagai dokumen penting, seperti identitas kependudukan dan ijazah, agar tetap bisa diakses meski dokumen fisik rusak, basah, atau hilang akibat bencana.
Kehadiran aplikasi ini punya fungsi yang cukup strategis. Dalam banyak situasi pascabencana, proses pemulihan sering terhambat bukan hanya karena kerusakan rumah atau infrastruktur, tetapi juga karena warga kesulitan menunjukkan dokumen dasar untuk mengakses bantuan, membuat ulang berkas, atau mengurus layanan publik. Dengan kata lain, kehilangan dokumen bisa jadi drama tambahan di tengah bencana yang sudah cukup bikin pusing.
Pemerintah Kota Cimahi menonjolkan tiga kelebihan utama Kandaga. Pertama, layanan ini bisa diakses gratis tanpa biaya apa pun. Kedua, sistemnya disebut aman karena dilengkapi login serta pengaturan hak akses. Ketiga, fungsi mitigasinya cukup nyata karena meskipun arsip fisik hancur, cadangan digital tetap tersedia untuk membantu proses pengurusan dokumen baru.
Dalam konteks kota yang rawan terhadap berbagai ancaman alam, inovasi seperti ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana kini mulai bergerak ke ranah yang lebih modern dan praktis. Perlindungan warga tidak hanya berarti menyelamatkan jiwa, tetapi juga memastikan hal-hal penting yang menopang hidup mereka sesudah bencana tetap dapat dipulihkan dengan lebih cepat. Dokumen yang terlihat selembar kertas biasa kadang justru sangat menentukan saat warga butuh bantuan atau akses layanan dasar.
Melalui Kandaga, Pemerintah Kota Cimahi mencoba memperluas makna kesiapsiagaan bencana. Inovasi ini bisa menjadi contoh bahwa teknologi daerah tidak harus rumit untuk terasa manfaatnya. Selama mampu menjawab kebutuhan nyata warga, aplikasi sederhana seperti Kandaga justru bisa menjadi salah satu bentuk perlindungan paling relevan di era ketika bencana datang tanpa perlu janjian terlebih dahulu.






