Setukpa Lemdiklat Polri bersama Pemerintah Kota Sukabumi menunjukkan bentuk kolaborasi yang nyata lewat apel siaga dan korve dalam rangka peringatan HUT Setukpa Lemdiklat Polri. Kegiatan yang digelar di Lapangan Merdeka pada 28 Maret 2026 itu melibatkan sekitar 1.800 siswa Setukpa serta lebih dari 500 aparatur sipil negara. Skala pesertanya besar, tetapi tujuan utamanya sederhana: memberi contoh bahwa kebersihan kota harus dijaga bersama, bukan hanya dibicarakan saat musim tumpukan sampah datang.
Kepala Setukpa Lemdiklat Polri Brigjen Pol Dirin menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat agar semakin terlibat menjaga kebersihan. Menurutnya, aparat dan institusi pendidikan kepolisian harus mampu menjadi teladan di tengah warga. Pesan itu terasa penting karena kota yang bersih tidak pernah lahir hanya dari petugas lapangan, tetapi juga dari budaya kolektif yang tumbuh di masyarakat.
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki pun memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai aksi kebersihan yang dilakukan bersama Setukpa semakin mempererat jalinan kerja sama antara lembaga pendidikan kepolisian dan pemerintah kota. Hubungan itu dianggap wajar, mengingat Setukpa sudah lama menjadi bagian dari sejarah dan identitas Kota Sukabumi. Jadi, kegiatan ini bukan cuma bersih-bersih biasa, tetapi juga simbol kedekatan institusional yang sudah terbangun cukup lama.
Di tengah kegiatan tersebut, isu pengelolaan sampah kota juga ikut mendapat sorotan. Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menjelaskan bahwa pemerintah kota telah menyiapkan langkah-langkah penanganan sampah yang lebih sistematis. Salah satu yang paling menonjol adalah rencana penutupan Tempat Penampungan Sementara yang tersebar di berbagai wilayah secara bertahap. Kebijakan ini menunjukkan bahwa Pemkot ingin mengubah pola lama yang terlalu bergantung pada TPS konvensional.
Namun, penutupan TPS tidak dilakukan secara sembarangan. Bobby menekankan bahwa sebelum satu TPS ditutup, harus ada kesepakatan jelas antara warga dan Dinas Lingkungan Hidup mengenai lokasi pengambilan sampah serta frekuensi penjemputannya dalam seminggu. Ini penting agar transisi tidak justru memunculkan masalah baru di lingkungan permukiman. Menutup TPS itu mudah, yang bikin pusing biasanya urusan “habis ini sampah dibawa ke mana”.
Selain itu, Pemerintah Kota Sukabumi juga berupaya mengoptimalkan TPS3R atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle. Beberapa titik pengolahan diharapkan mampu menangani sekitar 15 ton sampah per hari. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Pemkot mulai lebih serius menempatkan pengolahan di level lokal sebagai bagian dari solusi, bukan hanya terus memindahkan beban ke tempat pembuangan akhir.
Pemkot juga tengah menjajaki kerja sama dengan PT Semen Jawa dan PLTU Pelabuhan Ratu untuk memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar alternatif. Langkah ini memperlihatkan adanya upaya membuka jalur pengelolaan sampah yang lebih modern dan bernilai guna. Jika terealisasi, pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi timbunan sekaligus memberi nilai ekonomi tambahan pada sampah yang selama ini hanya dianggap beban kota.
Di sisi lain, Bobby tetap mengingatkan masyarakat agar memilah sampah dari rumah. Imbauan ini penting karena tanpa pemilahan sejak sumber, seluruh sistem pengelolaan akan selalu bekerja lebih berat. Kolaborasi antara Setukpa dan Pemkot Sukabumi pada akhirnya memberi satu pesan besar: kota yang asri, aman, sehat, dan rapi hanya bisa tercapai jika budaya bersih dibangun bersama, dari lapangan apel sampai dapur rumah tangga.






