Koops TNI Papua melaporkan adanya insiden penindakan saat patroli keamanan di wilayah Nabire, Papua Tengah, pada Minggu (15/3/2026). Menurut keterangan resmi, patroli rutin mendapati dua orang yang disebut membawa dua pucuk senjata api, lalu terjadi kontak tembak di lokasi.
Dalam kronologi yang disampaikan, kedua orang tersebut disebut melarikan diri ke arah hutan setelah kontak tembak berlangsung. Tim patroli kemudian melakukan pengejaran. Hasil operasi itu, satu orang dilaporkan ditemukan meninggal di tempat kejadian.
Koops TNI Papua mengidentifikasi korban sebagai Hurbianus Mirip. Ia disebut bagian dari kelompok OPM pimpinan Aibon Kogoya di Kodap III. Pihak TNI juga menyatakan yang bersangkutan diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Papua.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjelaskan alasan operasi patroli dan langkah penindakan. Dalam konteks keamanan wilayah, TNI menyebut tindakan yang diambil merupakan upaya menjaga stabilitas serta melindungi masyarakat dari gangguan kelompok bersenjata.
Kapen Koops TNI Papua Letkol M. Wirya Arthadiguna mengatakan pihaknya tidak memberi ruang bagi aktivitas kelompok yang dinilai mengancam keamanan. Ia menyebut pendekatan yang dilakukan bersifat tegas, namun tetap mengedepankan upaya membangun stabilitas, kesejahteraan, dan kepercayaan masyarakat.
Pihak TNI juga menegaskan operasi dilakukan secara profesional dan terukur sesuai prosedur yang berlaku. Narasi ini menekankan bahwa kegiatan patroli merupakan rutinitas yang disiapkan untuk memetakan situasi lapangan dan merespons potensi gangguan keamanan.
Di sisi lain, insiden bersenjata seperti ini selalu menjadi pengingat bahwa tantangan keamanan di Papua memiliki kompleksitas tinggi. Faktor geografis, akses yang sulit, serta dinamika sosial setempat membuat operasi keamanan memerlukan koordinasi dan kehati-hatian yang berlapis.
Koops TNI Papua menyatakan akan terus melanjutkan langkah-langkah pengamanan demi menciptakan rasa aman di wilayah. Informasi lanjutan terkait penanganan kejadian biasanya mengikuti proses internal dan koordinasi dengan pihak terkait, terutama bila ada pengembangan temuan di lapangan.






