Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) Rapid Deployment Battalion (RDB) XXXIX-G menjalankan operasi berbasis kemanusiaan di Desa Maliobongo, wilayah Tchabi, Republik Demokratik Kongo. Kegiatan berlangsung pada 12–14 Maret 2026 sebagai bagian dari tugas pengawasan dan pemantauan di Area of Responsibility (AOR) misi perdamaian MONUSCO.
Dalam pelaksanaan Mobile Operation Base (MOB) ini, Satgas dipimpin Mayor Inf Andhika Widya Nugraha. Total 42 personel terlibat, didampingi Language Assistant (LA) serta personel Forces Armées de la République Démocratique du Congo (FARDC) untuk memastikan koordinasi lapangan berjalan efektif.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan Key Leader Engagement (KLE) bersama tokoh masyarakat setempat. Tahap ini dilakukan untuk membangun komunikasi, menyerap kondisi terkini, serta memperkuat kepercayaan warga terhadap keberadaan pasukan perdamaian yang bertugas di wilayah tersebut.
Setelah itu, pendekatan Civil Military Coordination (CIMIC) dijalankan melalui kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan warga. Satgas mengadakan sosialisasi kesehatan dan membuka layanan pengobatan gratis, memberi akses layanan dasar kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Selain layanan kesehatan, Satgas menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, pakaian, dan air bersih. Bantuan ini ditujukan untuk meringankan kebutuhan harian warga, khususnya di area yang akses fasilitasnya terbatas dan rentan terdampak kondisi keamanan maupun logistik.
Mayor Andhika menjelaskan bahwa kehadiran TNI dalam misi tersebut merupakan implementasi mandat resolusi PBB untuk menjaga perdamaian. Namun, menjaga damai tidak cukup hanya dengan patroli; dampak positif juga perlu hadir lewat aksi nyata yang membuat warga merasa aman dan diperhatikan.
Karena itu, Satgas juga melaksanakan patroli gabungan bersama FARDC, baik menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki. Patroli ini bertujuan meningkatkan rasa aman, memperkuat stabilitas, serta memastikan situasi di sekitar desa terpantau terkendali selama kegiatan berlangsung.
Menurut laporan, seluruh rangkaian program berjalan lancar dan mendapat respons positif dari masyarakat. Situasi keamanan di Desa Maliobongo terpantau kondusif sehingga warga dapat beraktivitas secara normal selama pelaksanaan MOB.
Kegiatan ini juga menjadi contoh penerapan pendekatan humanis dalam operasi perdamaian. Dengan kombinasi komunikasi, layanan kesehatan, bantuan dasar, dan patroli keamanan, Satgas berupaya membangun suasana yang lebih stabil sekaligus memperkuat relasi dengan komunitas lokal.
Bagi Indonesia, keberhasilan kegiatan ini bukan hanya soal kelancaran operasi, tetapi juga menjaga nama baik di tingkat internasional. Di medan tugas seperti ini, profesionalisme pasukan diuji bukan hanya saat menghadapi situasi sulit, tetapi juga saat melayani dengan empati—karena perdamaian sering dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti obat, air bersih, dan rasa percaya.






