RAGAMNETWORK.COM – Saham Xiaomi Corp. mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir, menjadikannya salah satu perusahaan teknologi berkinerja terburuk di Tiongkok. Para analis meyakini bahwa penurunan ini berasal dari prospek suram di dua bisnis utama raksasa teknologi ini: pasar smartphone yang stagnan dan segmen mobil listrik yang menghadapi banyak risiko.
Prospek Pendapatan dan Beban Biaya Komponen
Analisis pasar memprediksi laporan keuangan Xiaomi, yang dijadwalkan rilis 18 November, akan menunjukkan pertumbuhan pendapatan terlemah sejak tahun 2023. Hal ini memicu psikologi pesimisme di kalangan investor, yang berujung pada aktivitas short selling yang kuat. Banyak lembaga analisis telah menyesuaikan target harga saham mereka karena prospek laba yang melemah.
Salah satu tekanan terbesar dan paling mendesak yang dihadapi Xiaomi adalah meningkatnya biaya chip memori. Menurut InSpectrum Tech, harga kontrak DRAM seluler pada Oktober naik tajam 21%, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. HSBC memperkirakan harga akan terus meningkat sekitar 10 persen pada kuartal ketiga 2025. Kenaikan biaya komponen ini secara langsung mengancam margin keuntungan dari segmen smartphone, yang merupakan inti dari pendapatan Xiaomi.
Tekanan Ganda di Pasar Tiongkok dan Mobil Listrik
Gokul Hariharan, seorang ahli dari JPMorgan Chase, mengatakan pasar berada di tengah-tengah siklus super industri chip semikonduktor. Ia menilai Xiaomi akan kesulitan penuh untuk sepenuhnya mengalihkan biaya tambahan ini kepada konsumen, terutama di tengah perlambatan pembelian di Tiongkok, sementara pesaing seperti iPhone 17 dari Apple justru mencatat lonjakan penjualan.
Di segmen mobil listrik, meskipun Xiaomi meningkatkan kapasitas pengiriman untuk pre-order dan co-founder Lei Jun menargetkan keuntungan tahun ini, pasar mobil Tiongkok berada di bawah tekanan besar. Banyak pemerintah daerah mempersempit program bantuan subsidi pertukaran kendaraan baru. Menurut Barclays, pendapatan Internet of Things (IoT) Xiaomi juga diperkirakan melambat karena hilangnya manfaat subsidi.
Xin-Yao Ng, seorang manajer dana di Aberdeen Investments, mengatakan kesulitan umum industri kendaraan listrik membuat pendapatan aktual Xiaomi lebih rendah dari yang diharapkan.
Dampak di Bursa Saham Hong Kong
Kenaikan kapitalisasi Xiaomi yang sempat membawanya ke angka $200 miliar pada bulan Juni kini dengan cepat mengalami stagnasi. Saham Xiaomi yang terdaftar di Hong Kong turun hampir 30 persen dari puncak September, menjadikannya penurunan terbesar dalam indeks Hang Seng Tech pada periode yang sama.
Kekhawatiran tentang prospek ekonomi Tiongkok dan persaingan harga yang ketat di pasar konsumen terus memengaruhi sentimen investor. Goldman Sachs melaporkan bahwa hedge fund kini mulai bertaruh pada risiko yang dihadapi Xiaomi terkait keselamatan produk, kemajuan pabrik, dan lemahnya permintaan konsumen kendaraan listrik.






