Sore menjelang berbuka di Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, selalu punya cerita sendiri. Pada hari pertama Ramadhan tahun ini, kawasan lapak takjil kembali dipadati warga yang berburu menu berbuka—mulai dari kue basah, kue kering, hingga minuman segar khas bulan puasa.
Keramaian sudah terasa sejak matahari mulai turun. Banyak pembeli tampak datang dari arah perjalanan pulang kerja, berhenti sejenak untuk membeli makanan tanpa harus memasak di rumah. Sebagian lainnya memang sengaja menjadikan waktu sore sebagai momen rutin “keliling takjil”, membandingkan pilihan, lalu membawa pulang yang paling menggoda selera.
Bagi para pedagang, situasi seperti ini adalah kesempatan emas. Meja-meja jualan dipenuhi aneka penganan, dan hampir semua penjual memaksimalkan variasi menu agar pembeli tidak bosan. Ada yang fokus menjual kue tradisional, ada pula yang mengandalkan minuman manis dan dingin untuk mengusir dahaga setelah seharian berpuasa.
Ainun (38), salah satu pedagang, mengaku terkejut sekaligus senang karena dagangannya cepat habis. Ia mengatakan, menjelang pukul lima sore saja, stok yang dibawa hampir ludes diserbu pembeli. Dibandingkan hari-hari biasa, arus transaksi pada awal Ramadhan terasa lebih cepat.
Antusiasme itu juga datang dari sisi pembeli. Ilham (33), misalnya, menilai suasana pasar pada hari pertama puasa memang cenderung lebih meriah. Menurutnya, orang-orang ingin memulai Ramadhan dengan menu berbuka yang “spesial”, sehingga lapak takjil selalu menjadi tujuan favorit setiap tahun.
Di antara pembeli, ada juga mereka yang terbantu karena kesibukan. Ita (37) mengaku pasar takjil membuatnya tidak perlu pusing memikirkan masakan berbuka, terutama saat pekerjaan menyita waktu. Ia merasa lebih praktis membeli beberapa pilihan kue dan minuman, lalu berbuka bersama keluarga di rumah.
Namun ramainya transaksi membawa konsekuensi lain: kepadatan lalu lintas. Menjelang magrib, kendaraan yang keluar-masuk pasar meningkat tajam. Parkir sembarangan dan titik jalan yang menyempit kerap memicu kemacetan, terutama ketika pembeli datang bersamaan di jam-jam puncak.
Untuk mengurangi penumpukan, petugas kepolisian dan Satpol PP terlihat berjaga mengatur arus kendaraan. Mereka bekerja ekstra agar jalur utama tetap bisa dilalui, sekaligus menjaga agar aktivitas pasar tidak membahayakan pengguna jalan.
Meski ada tantangan kemacetan, suasana Lambaro tetap menggambarkan warna Ramadhan yang khas: ramai, hangat, dan penuh interaksi. Lapak takjil bukan hanya tempat belanja, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan warga dalam rutinitas sore menjelang berbuka.
Ke depan, harapannya pengaturan parkir dan lalu lintas bisa semakin rapi agar aktivitas ekonomi pedagang tetap lancar dan pembeli merasa nyaman. Yang jelas, pada hari pertama puasa ini, Lambaro kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu titik favorit berburu takjil di Aceh Besar.






