OpenAI disebut sedang menyiapkan langkah besar yang berbeda dari biasanya: masuk lebih serius ke perangkat konsumen. Setelah dikenal lewat terobosan perangkat lunak dan layanan AI, perusahaan ini dikabarkan tengah merancang beberapa “benda pintar” yang terhubung dan diperkaya kecerdasan buatan.
Dari sejumlah prototipe yang beredar dalam pembicaraan internal, perangkat yang paling dekat ke pasar disebut adalah speaker pintar. Produk ini diposisikan sebagai pembuka jalan sebelum proyek lain seperti kacamata pintar dan lampu terhubung benar-benar matang.
Yang membuatnya mencuri perhatian adalah rencana integrasi kamera. Bukan sekadar untuk panggilan video, kamera tersebut kabarnya dapat menjalankan pengenalan wajah ala Face ID sekaligus membaca konteks sekitar—misalnya objek di meja terdekat atau aktivitas di ruang yang sama.
Fungsinya disebut mengarah pada kemudahan autentikasi, termasuk untuk transaksi atau pembelian online. Dengan kata lain, speaker bukan hanya perangkat audio, melainkan “asisten” yang bisa memverifikasi identitas pengguna secara biometrik saat diperlukan.
Soal harga, kisarannya diperkirakan berada di rentang 200–300 dolar AS. Target rilisnya pun disebut pada awal 2027, meski jadwal ini masih bergantung pada kesiapan produksi, pengujian keamanan, dan strategi peluncuran global.
Di balik arah baru ini, nama Jony Ive ikut disebut sebagai pengaruh penting. Sosok desainer ikonik yang lama identik dengan Apple tersebut disebut punya peran strategis dalam pengembangan perangkat keras OpenAI, setelah akuisisi start-up io Products pada 2023 dengan nilai yang disebut mencapai 6,5 miliar dolar AS.
Harapannya, sentuhan Ive bisa membuat perangkat OpenAI tampil berbeda—bukan hanya cantik secara desain, tapi juga terasa “natural” dipakai sehari-hari. Namun, desain bagus saja tidak cukup ketika perangkat punya kemampuan mendengarkan dan mengamati lingkungan pengguna.
Justru di titik itu tantangan terbesar muncul: privasi. Perangkat yang selalu aktif, selalu siap mendengar perintah, dan ditambah kamera, rentan memunculkan resistensi publik. Kekhawatiran soal data yang terekam, cara penyimpanan, serta siapa yang bisa mengaksesnya akan menjadi pertanyaan paling keras.
Selain privasi, ada tantangan teknis yang juga tidak ringan. Perangkat AI membutuhkan daya komputasi tinggi, sementara untuk produk rumahan, semuanya harus dipadatkan ke bodi kecil, hemat daya, dan tetap stabil. Keterbatasan rantai pasok serta kebutuhan keamanan perangkat juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Karena itu, proyek lain disebut berjalan lebih lambat. Kacamata pintar kabarnya baru mungkin hadir sekitar 2028, sedangkan lampu terhubung masih berada di area abu-abu meski prototipe disebut sudah sempat dibuat. Walau tim teknis yang mengerjakan proyek ini kabarnya mencapai ratusan orang, eksekusi perangkat konsumen memang tidak sesederhana merilis fitur software.
Jika rumor ini akurat, maka OpenAI sedang menguji “babak baru” di objek terhubung: AI yang bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi hadir sebagai benda fisik di rumah. Kuncinya akan berada pada dua hal: kepercayaan pengguna dan kemampuan OpenAI membuktikan perangkatnya bermanfaat tanpa terasa seperti alat pengawasan.






