Konsep pertahanan modern tidak lagi hanya bicara pangkalan udara. Dalam situasi kontinjensi, fleksibilitas menjadi kunci: bagaimana alutsista bisa tetap bergerak ketika fasilitas utama tidak tersedia. Di titik inilah gagasan highway strip kembali mendapat panggung.
Pada Rabu, 11 Februari 2026, TNI melaksanakan uji coba pendaratan pesawat tempur TNI Angkatan Udara jenis F-16 dan Super Tucano di Ruas Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (JTTS) di Provinsi Lampung. Uji coba tersebut menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan operasional sekaligus optimalisasi infrastruktur strategis nasional untuk mendukung pertahanan.
Highway strip sendiri adalah pemanfaatan ruas jalan tol sebagai landasan darurat. Tujuannya bukan menggantikan pangkalan udara, melainkan menyediakan opsi ketika pangkalan utama tidak dapat digunakan—misalnya akibat kerusakan, gangguan keamanan, atau kondisi lain yang menghambat operasi.
Dalam skenario seperti itu, pesawat tempur harus bisa berpindah, mendarat, dan kembali mengudara dengan aman. Karena itulah uji coba di tol menjadi indikator penting: apakah kondisi permukaan, ruang manuver, dan dukungan teknis bisa memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Kegiatan ini dilaporkan berjalan aman dan lancar. Keberhasilan tersebut bukan pekerjaan satu pihak, melainkan hasil koordinasi terpadu antara TNI AU, Kementerian Pertahanan, Kementerian Pekerjaan Umum, serta PT Hutama Karya (Persero) sebagai pengelola ruas tol.
Dalam pelaksanaan, keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama. Pengamanan wilayah, kesiapan teknis, dan prosedur operasional harus dipastikan karena tol bukan ruang biasa untuk aktivitas penerbangan. Setiap tahapan memerlukan pengaturan lalu lintas, pengamanan perimeter, dan dukungan personel yang memadai.
Dari sisi strategi, uji coba ini memperlihatkan cara baru melihat infrastruktur. Jalan tol umumnya dipahami sebagai urat nadi logistik dan mobilitas sipil, tetapi dalam kondisi tertentu, infrastruktur tersebut juga bisa memiliki nilai tambah strategis untuk pertahanan.
Keberhasilan pendaratan F-16 dan Super Tucano juga menjadi pesan tentang daya tangkal. Ketika sebuah negara punya opsi operasi yang lebih fleksibel, perhitungan ancaman ikut berubah. Musuh potensial tidak bisa lagi hanya berasumsi bahwa melumpuhkan satu titik akan mematikan kemampuan udara.
Uji coba ini sekaligus mempertegas sinergi pemerintah, TNI, dan BUMN. Kolaborasi lintas instansi semacam ini dibutuhkan karena pertahanan tidak berdiri sendiri; ia memerlukan dukungan infrastruktur, regulasi, serta kemampuan koordinasi yang rapi.
Ke depan, pendekatan seperti highway strip biasanya menuntut evaluasi detail: kebutuhan teknis tambahan, standar operasi yang lebih matang, hingga skema pengamanan yang paling efektif. Namun untuk tahap uji coba, keberhasilan di JTTS menjadi bukti bahwa konsep ini bisa diterapkan dalam konteks Indonesia.
TNI menyatakan komitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme, kesiapsiagaan prajurit, dan kesiapan alutsista. Uji coba pendaratan di tol ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memastikan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga dalam berbagai situasi.






