Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 kembali membuktikan peran strategis sektor ekonomi kreatif sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi ekonomi kreatif mencapai Rp24,46 triliun atau hampir separuh dari total tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang tercatat sebesar Rp48,56 triliun selama periode liburan tersebut.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan kekuatan struktural ekonomi kreatif yang tidak bergantung pada momen sesaat, melainkan berpotensi menjadi pilar ekonomi berkelanjutan jika dikelola secara terintegrasi.
Menurutnya, lonjakan aktivitas ekonomi selama Nataru menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif telah menjadi bagian penting dalam pola konsumsi masyarakat, terutama di tengah meningkatnya minat terhadap produk dan pengalaman berbasis kreativitas lokal.
Kajian Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekraf mencatat adanya perubahan signifikan perilaku konsumen selama masa liburan. Produk kuliner lokal, fesyen, kriya, hingga hiburan dan seni menjadi pilihan utama masyarakat dalam membelanjakan pengeluaran mereka.
Tren ini diperkuat oleh data jejak digital konsumen yang menunjukkan peningkatan pencarian terkait kuliner pada akhir Desember 2025, disusul lonjakan minat terhadap hotel dan akomodasi menjelang pergantian tahun. Sementara itu, hiburan keluarga seperti bioskop mencapai puncak minat pada periode libur Natal.
Pola konsumsi tersebut memperlihatkan bahwa belanja ekonomi kreatif mengikuti ritme liburan dan dapat dipetakan secara strategis untuk mendukung perencanaan produksi, distribusi, serta promosi produk kreatif daerah.
Dari sisi pelaku usaha, dampak positif juga dirasakan secara langsung. Hasil survei menunjukkan sebanyak 76,93 persen pelaku usaha ekonomi kreatif mengalami peningkatan penjualan, sementara 73,08 persen mencatat kenaikan keuntungan selama periode Nataru. Mayoritas pelaku berasal dari skala usaha mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi kontributor utama transaksi.
Meski belanja wisatawan masih didominasi kebutuhan transportasi dan akomodasi, pengeluaran untuk produk ekonomi kreatif seperti makanan, cinderamata, dan belanja ritel mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang. Angka ini menunjukkan besarnya peluang ekonomi kreatif untuk terus diperkuat dalam ekosistem pariwisata nasional.
Secara kontribusi, subsektor kuliner menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB ekonomi kreatif selama Nataru dengan nilai Rp19,9 triliun, disusul fesyen sebesar Rp3,9 triliun dan kriya Rp0,24 triliun. Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, serta akses pembiayaan agar pelaku usaha mampu merespons lonjakan permintaan secara optimal.
Menteri Ekraf menegaskan bahwa pengelolaan momentum liburan secara sistematis melalui integrasi ekosistem dan pasar ekonomi kreatif dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya terhadap pertumbuhan PDB, tetapi juga terhadap daya saing jenama lokal di tingkat nasional maupun global.






