Google Maps akhirnya mengambil langkah mundur setelah menuai protes luas dari pengguna. Layanan peta digital milik Google tersebut resmi mengembalikan fitur informasi lereng dan lift ski yang sempat dihapus pada akhir 2024, menyusul reaksi keras komunitas pecinta olahraga musim dingin.
Keputusan ini datang di momen yang dinilai tepat, seiring musim dingin yang sedang berlangsung dan meningkatnya aktivitas wisata ke kawasan pegunungan. Bagi para pemain ski dan snowboarder, fitur tersebut selama ini dianggap krusial untuk merencanakan perjalanan dan aktivitas di resor salju.
Penghapusan fitur peta ski sebelumnya memicu kekecewaan besar, terutama di wilayah pegunungan yang bergantung pada pariwisata musim dingin. Banyak pengguna menilai Google Maps telah menghilangkan alat penting yang memudahkan navigasi dan perencanaan lintasan ski.
Gelombang penolakan tersebut bahkan melahirkan petisi daring di Change.org yang diinisiasi oleh Donát Sugataghy. Dalam waktu singkat, hampir 3.000 tanda tangan terkumpul. Petisi itu menekankan bahwa keberadaan lift dan jalur ski bukan sekadar informasi tambahan, melainkan bagian dari infrastruktur vital yang menopang ekonomi lokal.
Menanggapi tekanan tersebut, Google mengonfirmasi pengembalian fitur lereng dan lift ski di Google Maps. Selain menghadirkan kembali data yang sebelumnya dihapus, Google juga menambahkan citra satelit yang lebih detail serta informasi langsung dari sejumlah pengelola resor, seperti titik awal dan akhir lift maupun jalur ski.
Peningkatan ini diharapkan membantu pengguna mengatur rute, memperkirakan waktu tempuh, dan merencanakan aktivitas dengan lebih akurat saat berada di area bersalju.
Meski disambut positif, pengembalian fitur ini belum sepenuhnya merata. Beberapa resor besar seperti Whistler, Park City, dan Palisades Tahoe sudah tercakup dalam pembaruan terbaru. Namun, masih ada sejumlah kawasan yang belum muncul, termasuk beberapa resor di British Columbia dan Oregon.
Google menyebut bahwa reintegrasi dilakukan secara bertahap, tergantung pada ketersediaan dan keakuratan data dari masing-masing pengelola resor.
Terkait keputusan awal menghapus fitur tersebut, Google menjelaskan bahwa tingkat penggunaan dinilai rendah. Banyak pengguna disebut lebih memilih peta resmi yang disediakan langsung oleh pengelola resor karena dianggap lebih detail dan spesifik.
Namun, tekanan komunitas membuktikan bahwa fitur ini tetap memiliki nilai penting bagi sebagian pengguna, terutama mereka yang mengandalkan satu aplikasi untuk navigasi dan perencanaan perjalanan.
Bagi wisatawan musim dingin, Google tetap menyarankan untuk memadukan Google Maps dengan peta resmi resor demi mendapatkan informasi paling lengkap selama berada di pegunungan.






