Kesiapsiagaan masyarakat Lembang dalam menghadapi bencana alam diuji secara langsung melalui simulasi penanganan darurat yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Sinapeul, Desa Gudangkahuripan, ini berhasil melibatkan partisipasi aktif dari ratusan warga. Inisiatif ini merupakan implementasi krusial dari program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang sedang digalakkan di Kecamatan Lembang.
Tujuan utama dari latihan gabungan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan ketahanan warga terhadap berbagai potensi ancaman, khususnya bencana hidrometeorologi. Mengingat lokasi Lembang yang berada di dataran tinggi, wilayah ini memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana seperti longsor dan banjir bandang. Oleh karena itu, edukasi praktis mengenai cara penyelamatan diri dan prosedur tanggap darurat menjadi sangat penting untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa.
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Sistem Tanggap Darurat
Simulasi ini tidak hanya melibatkan warga lokal, tetapi juga menunjukkan sinergi yang kuat antar berbagai elemen. Turut berpartisipasi para relawan kebencanaan, pelajar, serta aparat gabungan yang terdiri dari unsur Palang Merah Indonesia (PMI), tim SAR, anggota TNI-Polri, dan jajaran aparat kewilayahan. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini dirancang untuk menguji koordinasi dan rantai komando dalam situasi darurat yang sesungguhnya.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sehabudin, latihan ini memiliki nilai strategis untuk memperkuat sistem respons di kawasan utara Bandung Barat. “Simulasi ini kami awali di Lembang karena hampir seluruh wilayahnya memiliki potensi longsor dan banjir bandang akibat kondisi geografis dan curah hujan yang tinggi,” jelas Asep pada Rabu (12/11/2025). Ia menambahkan, tujuan utamanya adalah memastikan kesiapan dan melatih koordinasi lintas lembaga agar penanganan di lapangan bisa berlangsung cepat, tepat, dan efektif.
Skenario Longsor dan Praktik Penanganan Korban
Dalam latihan tersebut, para peserta dihadapkan pada skenario realistis bencana longsor yang dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi. Diceritakan, longsor tersebut menimpa area permukiman warga, menyebabkan kerusakan, dan menimbulkan korban. Skenario ini dirancang untuk menguji respons cepat dari tim gabungan dalam melakukan asesmen awal, evakuasi, dan penanganan korban di lokasi terdampak.
Berbagai materi praktis diberikan selama simulasi berlangsung. Para peserta mendapatkan pelatihan langsung mengenai teknik pertolongan pertama pada korban luka, manajemen posko darurat bencana, serta cara mendirikan dan mengelola dapur umum untuk pengungsi. “Tim gabungan bergerak cepat mengevakuasi korban, menyalurkan logistik, dan memberikan informasi kepada masyarakat,” tambah Asep, menjelaskan detail alur latihan.
Membangun Kemandirian Warga dan Mendorong Pencegahan
Kepala Desa Gudangkahuripan, Agus Karyana, menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh BPBD KBB. Menurutnya, simulasi ini memberikan pengalaman yang sangat berharga dan pembelajaran langsung bagi warganya. “Melalui simulasi ini kami belajar bagaimana bertindak cepat saat bencana terjadi. Jadi masyarakat tidak hanya menunggu bantuan, tapi bisa menyelamatkan diri dan orang lain,” ungkap Agus.
Lebih jauh, Agus turut menyoroti aspek pencegahan jangka panjang yang tidak kalah penting, yakni perlunya menjaga kelestarian lingkungan di Kawasan Bandung Utara (KBU). Ia menekankan bahwa pengendalian alih fungsi lahan dan perlindungan kawasan hutan harus terus ditegakkan untuk menekan risiko bencana di masa depan. “Mudah-mudahan semua desa di Bandung Barat bisa memiliki Destana, karena kesiapsiagaan adalah kunci mengurangi dampak bencana,” pungkasnya.






